Sebelum Menjadi ‘Kita’, Kita Adalah Kata”

CERITA

3/29/20262 min read

“Percaya atau tidak, kita dibentuk oleh kata-kata yang kita serap, yang kita dengar, ucapkan, baca, tulis, dan pahami. Dari situlah kita belajar berpikir, bertindak, dan memilih arah.”

“Tulisan ini tidak untuk dibaca sekilas.Ia hanya meminta Anda untuk membaca dengan lebih pelan. Jika Anda mencari sesuatu yang cepat dan ringan, mungkin inilah saatnya menutup halaman ini.”

Kita tidak hidup dari apa yang terjadi. Kita hidup dari kata apa yang kita percayai.

Dari apa yang kita dengar, kita belajar merasa.

Dari yang kita ucap, kita belajar menjadi sesuatu.

Dari tanpa sadar berapa banyak kata yang kita serap,

Pelan-pelan menjadi kumpulan kata yang kita pahami.

Manusia terlahir tanpa makna

Ia terlahir dengan air mata.

Kata pertama yang ia dengar sangat sederhana,

“selamat”, “akhirnya”, atau doa yang penuh syukur.

Namun saat itu, ia belum paham apa-apa

Ia hanya menerima, menyerapnya tanpa tafsir apa-apa

Seiring waktu, kita belajar.

Bukan hanya berbicara, tapi memberi makna

Kata “aku”, “kamu”, “main”,

perlahan menjadi langkah pertama

Yang membentuk “kita”,

untuk memahami dunia ini.

Kita mendengar, lalu meniru.

Kita memahami, lalu mengucap.

Sebagian kita sadari, sebagian lainnya,

tinggal di kepala dan nurani.

Kemudian, membentuk cara kita berpikir.

Bertahun-tahun kita hidup bersama kata.

Menyusunnya, mengartikan, lalu mempercayainya.

Namun sering kali, kita berhenti terlalu cepat.

Kita memenjarakan satu kata dalam satu arti,

lalu hidup dalam penjara tersebut.

Padahal, satu kata bisa bermakna banyak hal.

Ia bisa menjadi luka,

atau jadi “rumah”

Seperti saat “kamu” membaca judul tulisan ini.

Mungkin kamu sudah membayangkan arahnya.

Namun bagiku, tulisan ini tidak pernah benar-benar

punya satu tujuan yang pasti

Sejak awal,

setiap kata selalu membawa beragam tafsir

yang juga berbeda.

Ada yang hanya melihat satu makna,

dan itu tidak salah.

Ada pula yang mencoba melihat lebih jauh,

lebih luas, lebih kompleks,

bahkan lebih jujur.

Dan di situlah semuanya bermula.

Dari cara kita merespons kata.

Pada akhirnya,

“Aku”, “Kamu”, dan “Kita”

Bertindak dari apa yang kita pahami

Kita berbicara, bertukar pesan, mendengar,

berdasarkan makna kata yang kita pahami.

Proses ini tidak singkat

Ia tumbuh perlahan,

berjalan bersama waktu yang “Kita” jalani.

Tulisan ini tidak sedang menuju ke destinasi manapun

Ia hanya berhenti di satu pelabuhan.

Tempat kumpulan kata,

menjembatani “Aku” dan “Kamu”

Menjadi “Kita”, yang memiliki makna

Jika “Kamu” punya tafsir lain,

tak apa.

Mungkin cara “Kamu” memaknai kata berbeda,

dari cara “Aku” mencari jembatan dari makna kata

Agar menjadi “Kita”

Sejak awal,

bukan aku yang menentukan kata-kata tulisan ini.

Melainkan, kamu yang menentukan sendiri kata-nya.

Dan mungkin, tanpa sadar.

Dari rangkaian kata yang kita pahami,

kita sedang menjadi “Kita”

Dan terakhir,

silakan kamu yang menentukan.

Jembatan kata, untuk membentuk “Kita”

dari kata yang menghubungkan “Aku” dan “Kamu”

Terimakasih sudah membaca.