This article will be written in Bahasaand talk about September
“Of all the things I still remember Summer’s never looked the same The years go by and time just seems to fly But the memories remain”
—Daughtry, September
Seiring hari berganti, tanpa kita sadari, bulan Agustus telah berlalu. Kini, September hadir dengan lembar kanvas putih yang baru, menunggu kita untuk mulai melukis lagi. Kanvas Agustus sudah kita lipat, dengan segala memori yang terekam, peristiwa yang tergambar, bercampur menjadi satu dalam warna-warna kehidupan.
September, satu bulan yang akan mewarnai kanvas baru tahun 2024. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan tertulis, terlukis, dan terekam dalam memori. Hanya ada harapan, prediksi, dan rencana yang kita siapkan untuk melukis bebas di atas kanvas ini.
Tahun lalu, September 2023, sebagian dari kita melukis perjalanan hidup dengan beragam warna. Ada yang hitam, abu-abu, merah, jingga, biru, hijau, bahkan putih yang seolah sama dengan warna kanvas itu sendiri. Namun, pada akhirnya, hanya ada dua jenis memori yang sering kita tafsirkan: memori baik dan memori buruk.
September punya keunikan tersendiri bagi setiap orang. Kalau aku boleh bertanya, apa yang paling berkesan dari bulan September bagi kamu? Mungkin kamu pernah menerima surat cinta? Ditinggal kekasih? Atau kamu memenangkan sebuah kompetisi? Atau bahkan berhasil meraih sesuatu yang selama ini kau dambakan? Share your experiences in the comment below ya!
Let’s Go Back to September
Bagi sebagian orang, September adalah momen awal, ketika mereka memulai sesuatu yang baru. Mulai bersekolah, bekerja, membangun bisnis, atau bahkan merajut kisah cinta. Momen-momen ini diwarnai dengan semangat, kebahagiaan, kesedihan, atau mungkin perasaan yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
Semua perasaan itu terhimpun menjadi satu dalam sebuah kanvas kecil di memori kita. Bukan hanya memori yang tertanam di otak, tetapi juga di hati, di nurani kita. Tempat-tempat yang kita kunjungi, orang-orang yang kita temui, bahkan melodi yang sudah terekam jelas, semuanya menjadi bagian yang tak terhapus dari kanvas nurani kita.
Apapun yang terekam, pasti memiliki makna bagi kenangan kita. Entah itu memori yang menyenangkan, menyedihkan, atau sekadar biasa saja. Tak ada satupun kenangan, baik atau buruk, yang tak bernilai; setiap memori itu punya tempat tersendiri dalam hati kita.
Ditinggal kekasih, putus cinta, gagal meraih cita-cita, patah hati, diingkari, dikhianati, ditinggal sendiri, diacuhkan, dibiarkan, disingkirkan, bahkan merasa tak diinginkan—hanya sebagian kecil dari rekaman buruk yang mungkin tercipta.
Memang, rasanya pahit. Tapi coba lihat dari sisi lain. Dukungan teman, tempat curhat, bunga yang diterima, foto-foto dengan sahabat, perjalanan bersama, canda tawa dengan hewan peliharaan—semua itu adalah bagian dari memori September yang tak tergantikan.
“In the middle of September we’d still play out in the rain Nothing to lose but everything to gain Reflecting now on how things could’ve been It was worth it in the end”
Terlepas dari memori apapun yang tercipta sejak September tahun lalu, kita perlu bersyukur. Jika tidak ada September tahun lalu, mungkin aku bukanlah orang yang sama seperti hari ini, atau mungkin tetap sama, tapi dengan pandangan yang berbeda.
Banyak hal yang seharusnya kita pelajari untuk menjadi diri yang lebih baik. Kita belajar dari tawa, dari air mata, dari hubungan dengan orang-orang yang kita cintai, yang semuanya memberikan warna dan rasa pada hidup kita.
Kalau kita mau sejenak merenungi perjalanan hidup sejak September tahun lalu, kenangan apa yang paling berkesan? Apakah itu tawa atau air mata? Apakah penerimaan atau penolakan yang kamu terima? Kalau kamu tanya aku, aku tak peduli.
Hari ini adalah 1 September 2024. Kanvas baru sudah mulai ku lukis dengan cerita hari ini. Hari ini aku menulis artikel untuk kalian, untuk diriku sendiri. Aku tidak tahu siapa kalian yang membaca tulisanku ini, tapi aku bersyukur jika apa yang kutulis bisa bermanfaat bagi kalian.
Aku tidak akan menunggu cerita hingga 30 September nanti. Akulah yang akan melukis ceritanya. Apapun yang terjadi sampai 30 September, itulah cerita yang kutulis.
Kanvas ini masih putih. Hari ini, kulukis dengan tinta putih. Aku menantikan warna-warna lain yang akan menari di kanvasku. Aku berharap tidak ada warna abu-abu, tapi jika itulah takdir Tuhan, yasudah.
Artikel ini terinspirasi dari sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Daughtry dengan judul ‘September’.
Terimakasih bagi kalian yang sudah membaca sampai akhir. Kalau kalian ingin sharing pengalaman paling berkesan dari bulan September yang pernah kalian alami, silakan ceritakan pada kolom komentar di bawah.
Setiap hari, manusia merekam apa yang dilihat, didengar, dibaca, dan diucapkan. Otak kita secara tidak sadar mengubah semua itu menjadi memori atau data kehidupan, yang menjadi lukisan perjalanan hidup kita.
Banyak dari kita, termasuk saya, melukis setiap momen dengan baik tanpa disadari. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan, dan cium menjadi rantai yang menghubungkan peristiwa dan memori.
Seringkali, kita ingin mengulang peristiwa berkesan, tetapi waktu tidak mengizinkan. Beruntung, Tuhan memberikan kita memori. Memori yang berharga, berkesan, dan tak tergantikan, kombinasi ingatan di otak dan rasa di hati nurani.
Memori berkesan masa sekolah
Masa-masa sekolah adalah salah satu momen yang ingin diulangi. Pernahkah kalian merasa masa sekolah adalah masa paling menyenangkan? Belajar, bergurau, bermain, dan bepergian bersama teman-teman, masa itu terlewatkan sekitar setahun lalu bagi saya.
Suatu ketika, saya ingin kembali ke beberapa tahun lalu. Memori saya memanggil, seolah meminta untuk mengulangi peristiwa 1-2 tahun lalu, tetapi saya tidak bisa. Yang bisa saya lakukan adalah membuka memori tersebut dan melihat kembali lukisan perjalanan dari setiap momen yang terjadi. Beruntung, lukisan itu bisa kembali terbuka dengan bantuan lagu yang menghangatkan hati.
Lagu “Reunion” oleh Bon Jovi bercerita tentang reuni masa kecil yang telah berlalu. Lagu ini menggambarkan perubahan sejak seseorang memulai kehidupan baru pasca sekolah. Dalam video klip “Reunion,” terlihat orang dewasa mengenang momen masa kecil dengan bercengkrama dengan anak-anak. Mereka sudah memiliki jalan hidup masing-masing.
Lirik lagu ini mendorong setiap orang untuk hidup dengan optimis, menyampaikan harapan bahwa hidup memiliki banyak pilihan. Seperti garpu yang memiliki beberapa cabang, ujungnya tetap menuju makanan. Begitu pula dengan pilihan hidup kita.
Oh, write your song, sing along, love your life Learn to laugh, dare to dance, touch the sky
Bagian reff mendorong kita untuk menertawakan kesedihan, menari di atas masalah, dan meraih hal yang mustahil. Lagu ini juga bercerita tentang teman yang datang dan pergi.
“Reunion” mengajarkan kita untuk tidak bersedih dan terus melihat ke depan dengan optimis, sehingga dapat melakukan reuni dengan teman-teman tercinta. Bon Jovi mengajak kita memperbaiki diri tanpa melihat ke belakang. Teruslah melukis perjalanan indah dan momen berkesan menjadi memori.
Kita tidak tahu kapan memori kita akan memanggil. Yang bisa kita siapkan untuk masa depan adalah optimis, gigih, tekun, dan yakin. Bukan meratapi lukisan memori yang sudah kita buat.
Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk belajar? 1 jam? 2 jam? Atau bahkan 3 jam? Bagi gue, itu terlalu lama. Gue bisa meringkas waktu belajar 3 jam menjadi 1 jam. Gimana caranya? Ini trik yang gue lakukan! Yuk kita bahas!
Sejak diluncurkannya Chat GPT pertama kali pada 30 November 2022, publik dibuat heboh dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Pasalnya, Chat GPT adalah artificial intelligence (AI) pertama yang dapat diakses secara free oleh seluruh pengguna internet di dunia.
Chat GPT dengan kemampuannya yang canggih dapat memberikan informasi apapun yang kita minta. Informasi tersebut di-generate dari hasil training yang telah dilakukan oleh Open AI dengan data tertentu.
Kemiripannya dengan mesin pencari seperti Google, Chat GPT menawarkan fungsi lain yang lebih advance. Chat GPT dapat dipersonalisasi sesuai kebutuhan yang kita inginkan. Tidak seperti Google Search yang menghasilkan informasi tanpa summary, Chat GPT berkemampuan sebaliknya.
Dari kemampuannya tersebut, hanya dalam kurun waktu 5 hari, Chat GPT telah mencapai 1 juta pengguna. Daya tarik Chat GPT telah meracuni banyak kaum muda untuk mencoba generative AI pertama kalinya.
Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 14.6 miliar kunjungan ke web Chat GPT. Ini merupakan angka yang fantastis dari seluruh pengguna internet di dunia yang memanfaatkan Chat GPT untuk berbagai kebutuhan.
Gue pribadi memanfaatkan Chat GPT untuk belajar. Gue sudah berkali-kali mempersonalisasikan Chat GPT untuk gue pake belajar dan itu berhasil. Proses personalisasi ini tidak begitu rumit, namun membutuhkan ketepatan dalam melakukan prompting.
Yes, Chat GPT memerlukan prompting yang sesuai agar output menjadi maksimal. Gue akan share ke kalian gimana cara gue untuk prompt Chat GPT, termasuk generatif AI lainnya agar output menjadi maksimal.
1. Take a role as…
Sebelum gue cari informasi yang gue butuhkan untuk belajar, biasanya gue minta Chat GPT untuk jadi seseorang terlebih dahulu. Kok begitu? Ini berguna agar kita mendapatkan sudut pandang secara real dari penokohan tertentu.
Contohnya, gue mau belajar bisnis dari sudut pandang CEO perusahaan teknologi besar seperti Google. Atau gue mau belajar bisnis dari sudut pandang seorang disruptor yaitu Elon Musk secara langsung.
Misalnya gue mau belajar dari Elon Musk bagaimana cara merevolusi industri pendidikan di era digital. Seperti ini contoh promptnya:
“Take a role as Elon Musk and use his perspective in running a business. I need a perspective on how we need to disrupt the education system in the digital era.”
Cara ini berguna untuk mempelajari bagaimana cara pandang seorang pelaku industri tertentu terhadap suatu topik. Dari hasil prompt yang gue generate, secara general output dari Chat GPT cukup menggambarkan perspektif Elon Musk.
Berdasarkan output yang tertera pada gambar, Elon Musk akan melakukan leveraging teknologi untuk membuat personalisasi metode belajar. Penggunaan teknologi dapat memperbaiki metode ajar dan disesuaikan dengan karakter masing-masing siswa.
Kira-kira seperti itu cara pandang Elon Musk ketika gue minta Chat GPT menjadi beliau.
2. Please help me to understand…
Setelah meminta Chat GPT menjadi Elon Musk, gue akan minta AI untuk bantu gue paham sebuah topik. Pada contoh kali ini gue akan lanjut bahas topik disrupsi pada bidang edukasi
Contohnya seperti ini:
“Please help me to understand how you leverage technology into the traditional education system? Many developed countries have difficulty incorporating technology into their education systems. What do you think?”
Prompt seperti ini membantu kita untuk memahami sesuatu lebih direct. Contoh yang gue kasih adalah gimana cara Elon Musk untuk leverage teknologi ke dalam sistem edukasi saat ini.
Gue mencoba untuk mengambil sudut pandang Elon Musk sebagai pelaku industri yang revolusioner. Ada beberapa sudut pandang yang gue sebetulnya kurang paham. Tapi tenang aja, kita coba dive deeper dengan cara yang lebih sederhana di poin selanjutnya.
3. Can you explain … in the simplest way?
Kali ini gue akan dive deeper agar gue lebih paham bagian yang gue ga paham. Gue akan meminta Elon Musk menjelaskan kembali dengan bahasa dan tata kalimat yang lebih sederhana.
Contohnya seperti ini:
“Can you explain the seventh point “Encouraging Collaborative Learning” where you say we need to do something like in the SpaceX culture. please also explain to me the second point “Combining Online and Offline Learning” in the simplest way”
4. Suppose I am a high school student, explain to me everything you know about…
Setelah gue minta Chat GPT jelaskan apapun yang gue minta, namun gue masih belum paham semua itu. Kali ini gue akan minta Chat GPT untuk menyederhanakan penjelasannya.
Prompt yang gue tulis untuk menyederhanakan semua materi itu adalah sebagai berikut:
“Suppose I am a high school student, explain to me everything you know about effective group projects that leverage technology into the education system.”
Di sini gue impersonate menjadi siswa SMA. Tujuannya adalah agar output menjadi selaras dengan tingkatan pemahaman kita. Hasilnya menjadi seperti ini:
Prompt seperti ini berguna ketika kalian sulit memahami suatu hal yang kompleks. Prompt ini juga bermanfaat bagi kalian yang masih awam/pemula ketika belajar hal baru.
Jadi, itulah cara cerdik gue belajar apapun yang sulit dipahami dalam 1 jam. Prompt di atas dapat kalian coba juga untuk mempercepat proses belajar kalian.
Mengingat, dunia akan semakin dinamis, bahkan dalam 6 bulan kedepan pun terasa sulit diprediksi apa yang akan terjadi. Musuh kita bukanlah AI atau mesin otomatis. Namun, musuh kita adalah mereka yang menggunakan AI.
Akan sangat kontras perbedaan antara orang yang menggunakan AI dan tidak. Dunia saat ini sudah tidak meminta kita untuk belajar 1 Bab dalam 1 minggu. Kita dituntut belajar 1 Bab dalam 1 hari.
Lalu, bagaimana cara cepatnya? Ya pake AI. Seperti cara cerdik yang gue lakukan sejak Chat GPT diperkenalkan kepada publik.
Terimakasih buat kalian yang sudah baca sampai akhir. Setidaknya artikel ini dalam menginformasikan apa yang gue biasa lakukan ketika proses belajar. Ambil baiknya, buang buruknya.
Pentingnya belajar berkaitan erat dengan perspektif seseorang terhadap pendidikan. Banyak dari kita menganggap belajar hanya dilakukan di sekolah formal, dengan seragam sekolah, duduk di kelas, membaca buku teks, menghitung, dan mengikuti ujian.
Metode pembelajaran ini sering kali membuat banyak siswa merasa kurang menyukai belajar. Oleh karena itu, penting untuk memahami alasan di balik ketidaknyamanan ini agar kita dapat meningkatkan pengalaman pendidikan.
Sistem pendidikan sering menuntut kita untuk menentukan jawaban benar di antara pilihan salah saat ujian. Hasil ujian kemudian diukur dengan angka pasti, seolah merepresentasikan kebenaran yang kita sampaikan. Angka ini sering dikagumi, diperjuangkan, bahkan dipuja-puja.
Namun, hasil non-angka sering diabaikan. Seolah-olah, angka ini merepresentasikan seberapa malas atau rajin kita belajar. Padahal, hasil ujian tidak dapat merepresentasikan semangat belajar seseorang.
Misalnya, seseorang yang tidak menyukai matematika cenderung mendapatkan nilai rendah dibandingkan mereka yang menyukainya. Begitu pula bagi mereka yang menyukai sains, peluang meraih nilai tinggi lebih besar dibandingkan yang tidak menyukai sains.
Dalam konteks suka atau tidak suka belajar, nilai ujian atau grade tertentu tidak dapat merepresentasikan perasaan tersebut. Rasa suka atau tidak suka didasarkan pada motivasi di balik keinginan mempelajari sesuatu.
Contohnya, saya mungkin mendapatkan nilai rendah dalam mata pelajaran sejarah karena saya tidak membutuhkannya untuk masa depan saya. Namun, saya mendapatkan nilai tinggi pada mata pelajaran matematika dan sains karena saya sangat membutuhkannya.
Pada konteks ini, saya tidak menyukai sejarah karena merasa hanya menghabiskan waktu untuk sesuatu yang tidak saya butuhkan. Sebaliknya, saya akan meluangkan banyak waktu untuk sesuatu yang saya butuhkan, seperti matematika dan sains.
Saya akan merasa malas belajar sejarah karena tidak relevan untuk masa depan saya. Sebaliknya, saya akan bersemangat belajar matematika dan sains karena sangat penting bagi masa depan saya.
Rasa malas belajar
Pada tahun 2023, sebuah peristiwa ironi terjadi di Blitar, Indonesia, di mana ribuan siswa/i enggan bersekolah. Dilansir dari detik.com, para siswa tersebut memilih bekerja meskipun orang tua mereka berkecukupan.
Sebagian siswa memilih bekerja untuk mendapatkan uang. Mereka tergoda oleh nominal pada kertas bernilai uang, tetapi tidak tertarik pada kertas berisi teks panjang.
Ironi selanjutnya adalah rendahnya minat baca masyarakat Indonesia yang hanya sebesar 0,001 persen. Artinya, hanya ada 1 orang yang membaca teks panjang di antara 1000 orang. Ini mengenaskan mengingat teks panjang adalah sumber ilmu dan informasi yang lebih komprehensif.
Saya berpikir hal ini disebabkan oleh metode ajar di sekolah zaman dahulu yang mengedepankan textbook sebagai bahan ajar utama. Meskipun metode ini tidak salah, seharusnya bisa dikombinasikan dengan metode lain.
Bagi saya, belajar dari textbook terasa hambar tanpa interaksi langsung dengan materi ajar. Meski textbook merupakan sumber terpercaya untuk informasi, pengalaman belajar akan lebih hidup dengan metode lain yang lebih interaktif.
Textbook memang merupakan sumber utama belajar, namun sulit untuk menularkan inspirasi kepada pembacanya tanpa adanya pengalaman yang lebih dari sekadar membaca buku.
created by bing image creator prompt: Animation of a woman studying in a very cozy coffee shop.
Sudut pandang tentang belajar
Sudut pandang setiap orang terhadap belajar sangat beragam. Ada yang memandangnya sebagai kebutuhan, sebagai bersenang-senang, atau bahkan sesuatu yang sangat menyulitkan hidup.
Belajar sebagai kebutuhan
Bagi sebagian orang, belajar adalah kebutuhan untuk mencapai tujuan atau cita-cita. Tujuan ini bukan hanya produk akhir yang didapatkan, tetapi juga hasil dari proses belajar itu sendiri.
Sebagai contoh, saya belajar coding untuk mengasah logical thinking. Output yang saya harapkan adalah kemampuan berpikir logis yang tajam karena saya lihai membuat kode.
Saya belajar coding bukan untuk menjadi seorang programmer, tetapi untuk mendapatkan manfaat dari proses belajarnya. Terkadang, kita sering lupa menghargai hasil dari proses belajar itu sendiri.
Kebanyakan dari kita selalu melihat tujuan akhir atau output sebagai produk jadi. Padahal, produk akhir dihasilkan dari proses yang membutuhkan lebih dari sekadar ilmu.
Contoh lainnya, jika seseorang ingin menjadi programmer, ia perlu belajar coding dan memiliki logical thinking yang tajam. Logical thinking yang tajam tidak hanya berguna untuk membuat kode, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai bidang.
Logical thinking adalah hasil dari proses belajar coding. Kemampuan membuat kode yang baik adalah hasil dari logical thinking yang tajam. Banyak dari kita mengeluh saat menjalani prosesnya, padahal hasil dari proses itulah yang sebenarnya kita butuhkan.
Belajar sebagai proses
Mereka yang memandang bahwa belajar adalah proses biasanya tidak berorientasi pada hasil akhir. Mereka menikmati proses belajar sebagai kebutuhan untuk mencapai tujuan akhir.
Jika dianalogikan, kita perlu menikmati proses mengendarai mobil untuk sampai ke kota tujuan. Dalam proses belajar, kita mendapatkan pengalaman untuk menjadi lebih profesional dalam bidang yang kita pelajari.
Belajar sebagai proses merupakan dinamika untuk mendapatkan keterampilan baru, pengalaman baru, dan sudut pandang baru terhadap suatu ilmu. Ada hikmah di balik proses yang kita lalui ketika belajar.
Proses belajar membantu kita menstimulasi adaptabilitas, rasa ingin tahu, dan kemampuan pemecahan masalah. Belajar membuat kita lebih fleksibel terhadap perubahan.
Seolah otak kita sudah tersetting untuk menangkap informasi secara cepat. Kognitif kita yang semula menganut “slow living” berubah menjadi “ambisius”. Fungsi kognitif kita akan selalu berjalan karena proses belajar yang banyak dilalui.
Selain itu, belajar mampu menumbuhkan kreativitas. Kreativitas muncul ketika kita dihadapkan dengan tantangan rumit yang membutuhkan pemecahan masalah kompleks.
Kreativitas yang tumbuh menjadi bahan bakar bagi kita untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Seperti halnya hidup, lifelong learning adalah petualangan untuk mengeksplorasi dunia lebih jauh, luas, dan lebih dalam.
Belajar sebagai lingkungan pendukung
Belajar tidak hanya terbatas pada kelas formal yang disediakan oleh pemerintah atau swasta. Proses belajar dapat dilakukan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk memperdalam hobi yang kita minati.
Dengan definisi yang lebih luas ini, individu dapat menyadari bahwa belajar adalah bagian alami dari kehidupan dan tidak terbatas pada sekolah.
Pengakuan ini membantu menghilangkan stigma bahwa belajar adalah aktivitas yang membosankan atau mengintimidasi. Sebaliknya, ini mendorong setiap orang untuk melihat setiap momen sebagai kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru.
Hal ini juga memperluas wawasan bahwa setiap pengalaman hidup dapat menjadi sumber belajar yang berharga. Pengalaman ini memperkaya pengetahuan dan membangun kemampuan yang relevan untuk berbagai aspek kehidupan.
Sumber inspirasi belajar
Saat ini banyak sekali sumber inspirasi belajar bagi setiap orang. Jika di sekolah kita belajar melalui bacaan textbook panjang yang diberikan, maka tidak berlaku untuk era digital saat ini. Sumber-sumber konvensional seperti textbook sudah sulit untuk membuat seseorang “suka” belajar.
Ada beberapa sumber non-konvensional yang justru banyak diminati oleh orang-orang saat ini. Berikut adalah beberapa sumber inspirasi untuk belajar ketika textbook sudah tidak lagi menginspirasi.
Podcast and audiobooks
Mendengarkan ahli, pendongeng, dan para penggemar berbagi pengetahuan mereka melalui podcast dan buku audio menjadi salah satu cara populer untuk belajar. Podcast menyajikan berbagai topik seperti teknologi, seni, sains, cerita, bahkan self improvement yang dipaparkan oleh para ahli.
Ahli di bidangnya membagikan wawasan mendalam dan analisis tajam yang sulit ditemukan di sumber lain. Sementara pendongeng dan penggemar menghadirkan cerita-cerita menarik yang tidak hanya menghibur tetapi juga mengedukasi.
Podcast juga sering menghadirkan diskusi dan wawancara dengan berbagai narasumber. Mereka memberikan perspektif beragam yang memperkaya pemahaman pendengar.
Tak jarang, podcast terkenal menghadirkan role model yang populer sehingga mampu memberikan inspirasi lebih kepada para pendengarnya. Hal ini dapat memperkuat exposure untuk meraih keberhasilan menjadi lebih besar.
Saat ini, podcast dapat diakses dengan mudah hanya bermodalkan ponsel dan koneksi internet. Hal ini membuka peluang belajar yang tak terbatas, membantu setiap individu mencari inspirasi keterampilan baru, memperluas wawasan, dan tetap up-to-date dengan perkembangan terkini di berbagai bidang.
TED Talks dan online course
TED Talks adalah sumber inspirasi bagi siapa saja yang ingin termotivasi untuk belajar. Setiap sesi TED Talks menampilkan pembicara-pembicara penuh gairah yang membahas berbagai topik, mulai dari ilmu pengetahuan, teknologi, seni, hingga isu-isu sosial.
Dengan durasi yang singkat namun mendalam, TED Talks dapat memunculkan ide-ide baru dan perspektif yang segar. Pembicara yang dihadirkan adalah para ahli dibidangnya yang bercerita mengenai pengalaman dan pengetahuan mereka.
Melalui TED Talks, setiap orang dapat menemukan sudut pandang baru yang dapat mengubah cara mereka memandang dunia dan mendorong semangat belajar yang terus menyala.
Selain dari TED Talks, sesi webinar daring juga dapat menginspirasi seseorang agar mau belajar. Webinar memberikan kita akses belajar dari para pakar industri maupun akademisi berpengalaman.
Keunggulan webinar daring adalah para audiens dapat berinteraksi secara langsung bahkan face to face dengan pembicara. Hal ini membuka peluang luas untuk bertanya segala hal yang berkaitan dengan background ilmu dari pembicara.
Kedua media inspirasi ini jika kita gabungkan akan menjadi sebuah strategi yang kuat untuk memacu diri belajar lebih semangat. Saya pribadi lebih suka mencari inspirasi dari TED Talks karena dapat diakses kapanpun dan di manapun.
Terlebih, tokoh yang dihadirkan sangat bervariasi dari berbagai latar belakang, negara, maupun industri. Mereka memiliki perspektif yang out of the box namun sangat relate dengan keadaan dunia saat ini.
Percakapan dan networking
Berpartisipasi dalam diskusi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang adalah sumber inspirasi yang menarik untuk belajar. Setiap individu memiliki pengetahuan dan pengalaman unik yang bisa mereka bagikan.
Perspektif mereka yang berbeda-beda membuat kita berpikir dan memperdalam mengenai apa yang mereka diskusikan. Perspektif baru ini bisa saja membuat kalian merasa tertarik untuk mendalami suatu hal.
Percakapan ini dapat berlangsung secara daring ataupun melalui community tertentu. Begitupun dengan menghadiri sebuah workshop, meetup, atau forum menjadi media inspirasi bagi kita untuk diskusi suatu hal.
Keterlibatan kita dalam suatu community memberikan dukungan sosial untuk terus mengembangkan diri. Melalui kolaborasi dan berbagi pengetahuan, kita dapat membangun jaringan yang bermanfaat bagi perkembangan pribadi dan profesional.
Media percakapan dan networking mungkin sudah terdengar umum bagi sebagian orang. Namun, kedua media inilah yang cukup efektif untuk menumbuhkan curiosity kita untuk memperdalam suatu wawasan.
Melalui interaksi ini, kita tidak hanya memperkaya pengetahuan tetapi juga membangun hubungan yang dapat membuka jalan menuju peluang baru. Belajar menjadi proses yang dinamis dan menyenangkan, didorong oleh inspirasi yang kita temukan dalam setiap percakapan dan koneksi yang kita bangun.
Closing
Belajar bukanlah hal menakutkan seperti apa yang kita bayangkan. Belajar merupakan sebuah petualangan hidup yang tiada henti. Kita mungkin akan berhenti belajar di sekolah formal, namun tidak dalam kehidupan.
Setiap langkah kaki kita pasti mengajarkan kita pelajaran. Baik secara langsung maupun tidak langsung, secara sadar maupun tidak sadar. Kurang etis rasanya jika kita mengatakan tidak ingin lagi belajar.
Pada hakikatnya belajar bukan hanya duduk, menghitung, dan ujian. Itu hanya terjadi pada institusi formal dan informal yang memang dirancang menguji seseorang. Berbeda halnya dengan belajar sesungguhnya dalam kehidupan kita.
Suka atau tidak suka kita pasti akan belajar. Mau atau tidak mau kita pasti akan belajar. Butuh atau tidak butuh kita pasti akan belajar.
Mungkin sumber inspirasi kita untuk belajar bukan dari sebuah textbook panjang lagi. Media digital yang menunjang interaksi lebih banyak akan cenderung lebih menginspirasi kita. Terlebih, media tersebut sudah tertanam dalam batin kita ketika butuh inspirasi belajar.
Apa opini kalian mengenai belajar? Apakah kemauan belajar didasari atas suka-tidak atau butuh-tidak butuh? Lalu, dari mana inspirasi belajar kalian dan siapa role model yang sangat menginspirasi kalian untuk terus belajar?
Tahun 2024 telah berjalan selama 5 bulan, dengan 7 bulan tersisa untuk berkontribusi positif hingga akhir tahun. Dalam artikel ini, gue akan membagikan beberapa skill fundamental untuk dikuasai di sisa waktu tahun ini.
Media massa telah melaporkan bahwa dunia saat ini sedang mengalami evolusi dalam bidang sains dan teknologi, yang salah satunya tercermin dalam kemunculan artificial intelligence (AI) yang kini menjadi penunjang penting dalam pekerjaan dan pembelajaran kita.
Perkembangan sains dan teknologi diperkirakan akan terus meningkat, terutama dalam aspek positif seperti AI. Menurut laporan McKinsey yang diterbitkan pada tahun 2023, nilai pertumbuhan teknologi AI diperkirakan mencapai 4,4 triliun dolar AS di seluruh industri dunia.
Proyeksi nilai ini diantisipasi akan tercapai dalam waktu relatif singkat, mungkin dalam kurun waktu 5 tahun atau bahkan lebih cepat. Diprediksi pada tahun 2024, sekitar 8,4 miliar perangkat akan menggunakan AI. Dengan asumsi setiap individu memiliki 2 perangkat, maka sekitar 4,2 miliar orang akan memiliki akses ke teknologi AI.
Jumlah pengguna ini akan mengubah secara signifikan cara kita bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Metode lama akan semakin ditinggalkan, dan salah satu dampak yang paling dirasakan adalah di industri bisnis.
Teknologi AI terus berkembang, mengubah proses-proses yang sebelumnya didukung atau bahkan digantikan oleh AI. Banyak industri telah mengadopsi AI untuk membantu dalam proses bisnis dan pengambilan keputusan.
Sebagai contoh, terdapat konsep strategic intelligence yang melibatkan proses pengambilan keputusan strategis berdasarkan analisis data dari model AI. Data tersebut diolah untuk menghasilkan prediksi dan rekomendasi yang dapat membantu proyeksi masa depan.
Disrupsi AI yang semakin merata, mendorong kita untuk mengadopsinya. Namun, sekadar menggunakan AI tanpa pemahaman fundamental tidaklah cukup. Ada beberapa prinsip fundamental yang harus dipahami untuk memastikan penggunaan AI optimal dan tidak salah.
Jadi, keterampilan apa yang diperlukan untuk menghadapi AI? Mari kita simak sampai akhir artikel ini.
Digital Literacy
source: pexels.com
Digital literacy atau literasi digital adalah kemampuan dasar yang diperlukan untuk berinteraksi dengan teknologi. Ini tidak hanya tentang menggunakan komputer, tetapi juga tentang mencari informasi, membuat konten digital, dan berkomunikasi melalui platform online.
Perkembangan teknologi yang massif mengharuskan setiap orang cakap digital. Kehidupan manusia tidak akan pernah lagi bisa lepas dari jeratan teknologi. Baik dalam bidang pekerjaan maupun kegiatan sosial yang kedepannya akan menjadi technology-driven society.
Technology-driven society adalah kondisi di mana kehidupan sosial manusia akan dikendalikan menggunakan teknologi. Contoh kecilnya adalah tren fashion yang dipromosikan di media sosial berpengaruh terhadap lifestyle banyak orang.
Dilansir dari kompas.id, pada tahun 2022, skor literasi digital Indonesia meningkat sebesar 0.05 poin yaitu menjadi 3.54 dari tahun 2021 senilai 3.49 poin. Peningkatan ini menunjukan bahwa masyarakat Indonesia mengalami peningkatan literasi ketika menggunakan digital tools.
Namun di sisi lain, Indonesia memegang peringkat ke 51 dari 63 negara menurut Institute for Management Development (IMD) dalam World Digital Competitiveness Ranking 2022. Peringkat ini sangat jauh jika kita bandingkan dengan Singapura pada peringkat ke 4 dan Malaysia ke 31 pada tahun 2022.
Menurut artikel pada website law.ui.ac.id yang ditulis oleh salah satu dosen hukum UI, dengan kapabilitas literasi digital yang rendah, masyarakat Indonesia menjadi sangat rentan terpapar oleh berita hoax hingga hate speech.
Terlebih, bahaya cyber crime sulit dihindari oleh mereka yang minim kemampuan literasi. Tercatat pada tahun 2022 terdapat total 164.131 kasus email phishing di Indonesia. Menurut Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), korban dapat mengalami kerugian hingga 1.4 miliar rupiah.
Tantangan ini menjadi sebuah tugas besar bagi kita semua sebagai masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kemampuan literasi digital. Pada era serba digital saat ini, sudah saatnya kita semua sadar bahwa literasi digital menjadi fundamental dalam kehidupan sehari-hari.
3 Aspek Digital Literacy
Menggunakan digital tools untuk membuat produk atau konten digital
Berkomunikasi, berbagi, dan berinteraksi secara daring melalui online media platform
Menjaga keamanan dan berperilaku baik di media online
Menurut cambridge.org, ada tiga aspek literasi digital yang dapat kita pelajari untuk meningkatkan kapabilitas dan kemampuan literasi digital kita. Berikut adalah ketiga aspek agar kita lebih aware dengan literasi digital:
Ketiga aspek di atas, jika digabungkan maka setiap orang akan dapat mengidentifikasi masalah lebih dalam, analisis risiko masalah, dan memiliki citra baik atas perilaku online yang dilakukan.
Berikut contoh jika ketiga aspek tersebut digabungkan berdasarkan cambridge.org:
Contoh Pertama:
Komponen Aktivitas
Identifikasi Solusi
Hasil Literasi
Mengelola dan mencari data digital, konten, dan informasi melalui online media platform
Melakukan record sumber informasi sebagai referensi, menemukan keyword atas informasi yang didapat, dan menggunakan bantuan AI untuk mencari lebih dalam informasi yang diperlukan
Narasi informasi, infografis, cerita, dan format audio-visual. Contoh narasi: “Informasi mengenai mobil listrik didapatkan dari sumber A. Ia menyatakan bahwa…”
Menganalisis dan menilai data, informasi, dan konten dari sumber digital.
Melakukan komparasi antara berita aktual dan hoax, mencari dan membandingkan dua informasi yang membingungkan dan kurang masuk akal, serta menganalisis sumber data, informasi, dan koten.
Narasi informasi, infografis, cerita, dan format audio-visual. Contoh narasi: “Informasi dari sumber A adalah tidak benar karena berdasarkan data dari sumber B, dirasa tidak masuk akal atas informasi tersebut.”
Membandingkan, menilai, dan membuat perspektif atas informasi dari sumber digital.
Melakukan eksplorasi konten informasi dari berbagai sumber. Menyimpan seluruh data dan informasi relevan dari setiap sumber informasi. Melakukan link and match antar sumber. Bertanya terkait keabsahan informasi menggunakan AI.
Narasi informasi, infografis, cerita, dan format audio-visual. Contoh narasi: “Informasi ini adalah hoax. Saya mendapatkannya dari media sosial dengan akun A. Namun, menurut situs berita resmi media B, informasi tersebut adalah salah. Saya menyimpan beberapa data yang relevan dari sumber kredibel terkait kebenaran informasi tersebut.”
Contoh Kedua:
Agar teman-teman pembaca lebih paham penggunaan aspek literasi digital di kehidupan sehari-hari seperti apa, yuk simak contoh yang gue adaptasi.
Komponen Aktivitas
Identifikasi Solusi
Hasil Literasi
Interaksi dan berbagi informasi kepada sesama rekan kerja atau belajar
Memberikan informasi melalui online platform yang sesuai dengan kebutuhan. Mengunggah file ke dalam sistem informasi agar seluruh rekan dapat mengaksesnya secara bersama-sama.
Contoh narasi: “Informasi [artikel, file, konten] sangat relevan dan akan membantu proses penyelesaian proyek kita lebih cepat, tepat, dan efisien biaya.”
Belajar membuat program komputer menggunakan coding
Menggunakan generative AI untuk bertanya coding yang tidak dipahami. Melakukan prompting coding pada tools AI untuk mempercepat proses belajar.
Contoh narasi: “Menurut [Generative AI], coding ini berfungsi ini menampilkan data berbentuk tabel. Sehingga, untuk menghasilkan tabel yang baik, maka coding perlu diimplementasikan dengan struktur data yang baik juga.”
Mencari informasi film tertentu untuk ditonton pekan depan
Mencari informasi melalui website penyedia informasi film. Mencari informasi melalui media sosial. Bertanya langsung kepada generative AI untuk meminta saran film terbaru.
Contoh narasi: “Based on media sosial A, film yang akan dirilis pekan ini adalah Film B. Kemudian, berdasarkan website penyedia film, film tersebut bergenre drama dan komedi.”
Ketiga aspek ini menurut gue pribadi sangat relevan untuk kita pelajari, pahami, dan diterapkan di kehidupan sehari-hari. Mengingat kembali bahwa literasi digital di Indonesia masih perlu peningkatan yang signifikan, ketiga aspek tersebut dapat dipelajari oleh siapapun.
Sejatinya, skill literasi digital saat ini sudah menjadi fundamental ketika kita hendak berinteraksi dengan tools digital, terutama dalam proses belajar.
Bukan hanya persoalan menggunakan teknologi komputer maupun gawai lainnya, literasi digital berperan dalam proses belajar yang lebih terkurasi.
Critical Thinking and AI Literacy
source: pexels.com
Pada tahun 2024, perkembangan AI semakin masif di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data Statista, diproyeksikan bahwa penetrasi penggunaan AI terus meningkat hingga mencapai 729,1 juta pengguna di seluruh dunia.
Di Indonesia, adopsi AI juga cukup signifikan. Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 1,4 miliar kunjungan ke situs AI dari pengguna di Indonesia, menjadikan Indonesia berada di urutan ketiga setelah AS dan India dalam hal pengaksesan AI.
Dewasa ini semakin banyak informasi yang dibuat hanya mengandalkan kemampuan AI. Adapun sebagian artikel di berbagai website penyedia artikel yang meminta AI secara murni untuk menulis artikel.
Tak jarang artikel-artikel tersebut tersematkan data dan informasi krusial yang membutuhkan penilaian benar atau salah. Data dan informasi yang dibuat oleh AI belum diketahui secara pasti kebenarannya.
Sebagian orang mungkin akan langsung percaya dan mengonsumsi informasi tersebut mentah-mentah. Namun, pengecekan kembali data dan informasi sangat diperlukan untuk memastikan secara faktual.
Kemampuan critical thinking sangat diperlukan pada era AI yang sedang secara masif berkembang. Critical thinking diperlukan untuk mengevaluasi informasi yang dibuat oleh AI. Apakah informasi yang dihasilkan menimbulkan bias, ambiguitas, atau tidak relevan terhadap suatu topik tertentu.
Dalam konteks AI, critical thinking yang dimaksud adalah kemampuan seseorang untuk menganalisis output AI. Jika output AI dirasa kurang relevan dan kurang akurat, maka kita menggunakan critical thinking untuk mencari data aktual.
Sejatinya, AI tidak akan pernah bisa menggantikan manusia untuk menghasilkan informasi yang akurat dan sesuai fakta. Proses evaluasi menggunakan critical thinking menjadi fundamental karena banyak AI seperti Chat Gpt yang masih memberikan informasi yang salah.
Dalam artikel yang dipublikasikan oleh Forbes, AI masih sangat rentan terhadap informasi yang tidak benar. Teknologi AI secara basic adalah mesin yang dilatih untuk menuruti perintah pengguna. AI hanya menjalankan perintah dari prompt yang dituliskan.
AI akan melakukan record data untuk self learning dari penggunanya. Menurut Feyaza Khan dalam artikel tersebut, ia menyebutkan bahwa banyak sekali keterlibatan manusia secara langsung pada proses development AI.
Proses development yang sangat krusial adalah bagaimana sebuah AI dapat menghasilkan informasi berkualitas tinggi dengan akurasi yang tinggi. Model AI yang baik sangat bergantung pada penggunaanya karena AI mempelajari pola penggunanya.
Feyaza Khan juga menyampaikan bahwa bagi para pengguna AI terutama penulis dan editor harus sangat kritis terhadap output yang dihasilkan AI. Maka dari itu, kemampuan critical thinking para pengguna harus sangat berkualitas tinggi.
Critical thinking bukan sekadar mengevaluasi hasil AI. Namun, juga mengeksplor potensi yang akhirnya membantu manusia pada proses problem solving. Dengan limitasi AI yang ada sekarang, kemampuan evaluasi informasi menjadi fundamental.
3 Core dari Critical Thinking in AI era
Contextual understanding
Pemahaman secara detail dan mendalam mengenai konteks informasi yang dicari pada AI adalah hal yang krusial. AI memiliki limitasi terhadap hal mendetail terhadap konteks tertentu dan hanya menghasil informasi yang berputar pada jawaban sebelumnya.
Creativity:
Critical thinking memerlukan kreativitas untuk melihat sudut pandang lain yang tidak dihasilkan oleh AI. Terlebih, pemikiran out of the box dari pengguna sangat diperlukan agar output AI lebih luas.
Adaptability
Adaptasi terhadap strategi penalaran berdasarkan informasi dari AI sangat diperlukan. AI secara basic memiliki kemampuan adaptabilitas yang baik terhadap data baru maupun informasi baru yang diajarkan. Namun, AI tidak memiliki fleksibilitas serta adaptasi pemikiran serta pengolahan informasi seperti manusia.
Definisi serta 3 aspek critical thinking yang telah dijelaskan di atas menjadi fundamental di era AI saat ini. Terdapat korelasi antara critical thinking dan AI, lebih tepatnya adalah AI literacy. AI literacy atau literasi secara umum adalah kemampuan penggunaan AI.
AI Literacy
Pada era AI saat ini memahami cara kerja AI bukan lagi sesuatu yang eksklusif, namun sudah menjadi kebutuhan. Pemahaman kemampuan AI dalam menyediakan informasi menjadi sangat krusial. Terlebih ketika kita mengkonsumsi informasi yang di-generate secara langsung menggunakan AI.
AI literacy atau literasi AI sudah menjadi fundamental dalam memahami output informasi yang disediakan AI. Literasi AI berkorelasi dengan critical thinking pada sub sebelumnya.Korelasinya adalah literasi AI membutuhkan critical thinking untuk menilai informasi.
Literasi AI membantu seseorang yang menggunakan AI menjadi lebih kritis dan memiliki asumsi dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh proses berpikir yang terjadi ketika seseorang mempertanyakan kebenaran informasi.
Dampak dari literasi AI adalah pada proses pengambilan keputusan yang berbasis pada kebenaran informasi. Sebagai contoh, gue mencari informasi mengenai apakah benar jika kita terus belajar, maka neuron di otak kita akan terus menguat.
Informasi yang disajikan AI mungkin belum tentu sepenuhnya benar karena AI hanya merekam dari berbagai sumber. Keperluan kita untuk mengevaluasi kembali adalah bentuk tanggung jawab etis secara tidak langsung.
Jika kalian menggunakan AI untuk tujuan publikasi artikel maupun jurnal atau buku, maka kalian memiliki tanggung jawab etis yang harus dilakukan. AI adalah mesin, AI adalah robot, dan AI tidak memiliki sense untuk mengenali kebenaran informasi.
Literasi AI juga menjadi pendorong bagi kehidupan sosial manusia untuk menavigasi penggunaan teknologi yang baik. Proses pengambilan keputusan yang melibatkan AI akan menjadi lebih etis. Begitupun proses pencarian informasi untuk pengambilan keputusan.
End of Article
Gue selaku penulis artikel ini masih belajar banyak hal terkait skill fundamental digital literacy dan critical thinking and AI literacy. Tidak dapat dipungkiri bahwa penulisan artikel yang kalian baca di-support menggunakan AI.
Gue turut mencantumkan sumber referensi yang sebagian di-generate oleh AI dan sebagian murni hasil mesin pencari.
Terimakasih buat kalian yang sudah membaca artikel ini sampai selesai.
Bulan Ramadhan menjadi momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia. Pada momen ini, bukan hanya puasa, tarawih, dan sahur yang ditunggu-tunggu, namun momen ketika berburu takjil menjadi salah satu yang selalu ramai dilakukan.
Tak jarang dari kita yang selalu mengabadikan momen ramadhan setiap hari. Momen-momen tersebut menjadi konten kreatif yang menarik perhatian para penghuni dunia maya. Gen Z yang notabene adalah generasi “digital” sudah pasti tak lepas dari konsumsi konten tersebut.
Kreativitas Gen Z ketika bulan ramadhan seakan meningkat dengan sangat pesat. Berbagai konten kreatif mulai dari genre edukasi, entertainment, bahkan meme ketika puasa menjamur di media sosial.
Gen Z secara cekatan menangkap peluang untuk memproduksi konten dengan ide segar. Mereka lebih banyak mengeksplorasi media sosial secara mendalam dari berbagai platform yang ada.
Tak jarang konten yang mereka buat menjadi viral dan diikuti oleh banyak masyarakat yang menyaksikan konten tersebut. Seolah para Gen Z lah yang menciptakan tren konten baru di media sosial untuk diikuti khalayak ramai.
Seperti apa sih konten yang banyak dibuat oleh Gen Z ketika Ramadhan ? Yuk kita ulas di artikel ini!
Konten Edukasi
Banyak Gen Z saat ini dengan mudah memproduksi konten edukatif seputar ramadhan. Contohnya, mereka membuat video tentang tafsir Al-Quran yang “relate” dengan audiens mereka.
Adapun mereka memproduksi podcast yang mendiskusikan seputar ibadah di bulan ramadhan. Konten ini cukup banyak diminati karena formatnya yang bertajuk talk show atau monolog dalam bentuk audio atau video-audio.
Konten edukasi seperti ini tentunya memotivasi banyak audiens agar lebih aware menjalani ibadah di bulan ramadhan. Secara tidak langsung, konten seperti ini dapat mendatangkan pahala jariyah bagi yang memproduksinya jika diamalkan oleh para audiens.
Konten Entertainment
Hampir semua pengguna media sosial pasti sudah pernah mengonsumsi tipe konten seperti ini. Konten entertainment menjadi andalan sebagai media “penghibur diri” dari suntuknya dunia nyata.
Banyak dari Gen Z maupun yang lainnya yang memproduksi konten entertainment seperti ini. Contoh yang paling banyak adalah parodi lagu populer dengan lirik tentang ramadhan. Konten vlog buka puasa tak kalah ramainya ketika banyak orang mencari referensi lokasi berbuka puasa.
Bahkan, konten komedi ketika momen sahur pun ramai bertebaran di media sosial. Gen Z dapat dikatakan menjadi lebih kreatif saat momen ramadhan tiba. Banyak sekali ide segar dan referensi yang luas di era yang serba digital saat ini.
Konten Kolaborasi
Konten seperti umumnya dalam format video podcast. Konten kolaborasi cukup ramai diminati oleh para audiens dunia maya. Tipikal konten seperti ini menyajikan format diskusi dua arah yang santai namun tetap asik.
Tema yang umum didiskusikan adalah sharing pengalaman ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Keseruan cerita-cerita ramadhan ketika masa kanak-kanak menjadi sebuah momen yang tidak mungkin terlupa.
Keseruan menyimak dua orang atau lebih berdiskusi menjadi suatu keasyikan tersendiri. Terlebih jika yang didiskusikan adalah momen nostalgia ramadhan masa kecil. Para audiens akan menjadi lebih tertarik dan menjadi relate dengan diri mereka sendiri
Ramadhan Bagi Gue
source: pexels.com
Ramadhan adalah momen berharga yang terjadi setiap satu tahun sekali. Seluruh umat muslim sudah pasti menantikan momen berharga ini. Momen di mana pahala ibadah menjadi berkali-kali lipat.
Bagi sebagian orang, ramadhan menjadi momen yang paling ditunggu untuk bersuka cita. Menjalankan puasa dari pagi hingga petang dengan niat ibadah. Yang pada akhirnya, kita dihadiahkan hari kemenangan di penghujung ramadhan.
Ramadhan menjadi momen berlimpah bagi para pedagang makanan. Setiap sore, dagangan mereka tinggal tersisa label “takjil” dan daftar menu jika mereka menyediakannya. Setiap kita bertanya, jawaban mereka diawali dengan kata “maaf” dan diteruskan keterangan “sudah habis.”
Bagi sebagian kelompok, ramdhan menjadi waktu yang paling ditunggu untuk mencari rupiah tamahan. Baik melalui dagangan takjil, konten yang di monetisasi, maupun lainnya. Semua itu dilakukan untuk mendapatkan kemenangan di penghujung ramadhan.
Ramadhan selalu membawa berkah bagi mereka yang benar-benar memanfaatkannya. Sangat disayangkan, jika mereka tidak memanfaatkan momen langka ini. Momen di mana setiap insan mengumpulkan pahala, memori, rupiah, tabungan akhirat, bahkan harapan.
Bagi gue, itulah ramadhan. Gue selaku bagian dari Gen Z, menyampaikan selamat menjalankan ibadah puasa. Terimakasih sudah membaca. See you in the next article…
Gen Z sering diidentifikasi sebagai generasi yang sangat mengikuti perkembangan zaman. Mereka cenderung responsif terhadap tren dan inovasi yang terjadi. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa tidak semua Gen Z memiliki karakteristik yang sama. Generalisasi terhadap seluruh generasi mungkin tidak akurat tanpa mempertimbangkan klasifikasi lebih lanjut.
Gen Z dan Ekonomi
Satu klasifikasi yang umum digunakan adalah berdasarkan faktor ekonomi. Ada kelompok milenial yang dapat dikelompokkan dalam klasifikasi low-end, middle-end, dan high-end, masing-masing dengan karakteristik dan pengalaman yang berbeda.
Mereka dalam kelompok low-end mungkin memiliki keterbatasan ekonomi yang membuat mereka sulit mengikuti perkembangan zaman. Di sisi lain, kelompok middle-end dan high-end mungkin lebih mampu untuk mengikuti tren karena memiliki keleluasaan ekonomi.
Mengikuti perkembangan zaman dalam konteks ini seringkali berkaitan dengan daya beli untuk memenuhi gaya hidup tertentu. Adanya perbedaan dalam jumlah uang yang tersedia antara ketiga kelompok tersebut memainkan peran penting dalam kemampuan mereka untuk mengikuti tren.
Adapun pandangan bahwa Gen Z selalu mengikuti tren mungkin terlalu sempit dan tidak mencakup keberagaman mereka. Sebagian besar mungkin terlihat sering nongkrong di kafe atau mall, tetapi penting untuk menyadari bahwa ini hanya merepresentasikan sebagian kecil dari generasi tersebut.
Banyak Gen Z menghadapi tantangan seperti sulitnya mencari pekerjaan, berkuliah sambil bekerja, atau bahkan menjadi barista untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Mereka mungkin tidak sesuai dengan stereotip yang sering melekat pada generasi mereka.
cnbcindonesia.com
Selain itu, seperti yang dikutip dari cnbcindonesia.com, banyak milenial dan Gen Z diprediksi mengalami kesulitan dalam membeli rumah akibat kondisi ekonomi yang sangat fluktuatif. Kesenjangan antara penghasilan dan besarnya biaya cicilan semakin menekan mereka.
Opsi sewa atau kontrak rumah tidak selalu menguntungkan dalam jangka panjang. Sistem sewa dan kontrak cenderung lebih menguntungkan secara jangka pendek, namun uang yang dibayarkan tidak akan menghasilkan nilai yang dapat dimiliki secara permanen.
Contohnya, jika kita menyewa rumah seharga Rp. 5.000.000 per bulan, dibandingkan dengan mencicil rumah dengan nominal yang sama atau bahkan lebih besar, secara jangka panjang kita akan merasakan nilai yang lebih besar dengan mencicil. Sebab, melalui pembayaran cicilan, kita akan menjadi pemilik rumah tersebut pada akhirnya.
Gen Z dan kehidupan sosial
Terlepas dari semua itu, Gen Z menghadapi berbagai permasalahan sosial yang sering tidak terlihat. Banyak awak media yang membangun narasi bahwa Gen Z adalah generasi yang kaya, trendy, dan sejenisnya.
Namun, realitanya, itu hanyalah pandangan yang terbatas. Sebagian besar dari mereka adalah Gen Z yang berada dalam kelompok beruntung. Maaf untuk mengatakannya, tapi gue setuju dengan pernyataan bahwa mereka adalah kelompok yang beruntung dibandingkan dengan yang lain.
Media seringkali membentuk gambaran bahwa Gen Z adalah mereka yang selalu mengikuti tren, terus-terusan ngopi, mengalami masalah mental, terhubung erat dengan dunia teknologi, dan bahkan selalu bepergian.
Dengan framing tersebut, otak kita menjadi terprogram ketika mendengar kata Gen Z, tergambar seperti apa. Di satu sisi, ini menciptakan bias sosial dan ketidakpahaman terhadap kelompok lain.
Kenyataannya, Gen Z merasa tidak sehebat generasi sebelumnya. Mereka merasa tidak percaya diri untuk mencapai kesuksesan seperti generasi sebelumnya, bahkan ketakutan mereka mencakup ketidakpastian bertahan di dunia yang dianggap seperti surga dan neraka.
Tidak hanya itu, situasi ekonomi juga memberikan dampak pada kehidupan sosial mereka. Pendapatan mereka pada rentang usia 20-24 tahun sering kali hanya sekitar 2,5 juta rupiah. Beberapa di antara mereka merasa khawatir tentang bagaimana adik mereka akan makan di rumah, apakah mereka bisa makan esok hari, atau bahkan apakah mereka mampu untuk sekolah.
Mereka yang terdampak oleh situasi ini adalah mereka yang termasuk dalam kelompok low-end dan middle-end. Mereka memiliki daya beli yang lebih rendah, yang berdampak pada segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan sosial mereka.
Media dewasa ini semakin gencar dalam menciptakan framing bahwa Gen Z adalah generasi yang beruntung dan lebih baik daripada generasi sebelumnya. Mereka fokus pada upaya mendapatkan perhatian dari publik berdasarkan interaksi dan traffic.
Pendapat Gue Pribadi
Di akhir artikel ini adalah pandangan pribadi gue, yang notabene adalah Gen Z juga. Gue setuju dengan representasi media untuk sebagian kelompok Gen Z, dan itu tercermin dalam pengalaman gue.
Namun, gue melihat secara nyata, ada mereka yang termasuk Gen Z namun tidak seberuntung gue. Mereka memutar otak agar mendapatkan mata uang rupiah sembari mengenyam pendidikan.
Gue berharap, kelompok yang tidak terlihat dapat turut terekspos sehingga publik menjadi lebih aware terhadap mereka. Mereka membutuhkan bantuan kita yang lebih beruntung. Mereka membutuhkan dukungan secara materi maupun non materi.
Generasi Z atau Gen Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997-2012, mengikuti generasi milenial yang lahir pada tahun 1981-1996. Menurut McKinsey, generasi ini tumbuh seiring dengan perkembangan internet yang menjadi fundamental dalam kehidupan mereka saat ini.
Pada era ini, Gen Z dianggap sebagai penguasa jejaring internet. Media sosial bukan hanya sebuah fitur, melainkan menjadi “makanan” utama dan seperti nadi kehidupan bagi mereka. Mereka mampu menemukan segala sesuatu yang diinginkan melalui internet.
Berbeda dengan generasi sebelumnya, yaitu millennial, Gen Z lebih mudah terpengaruh oleh tren yang berkembang di media sosial. Sebagai contoh, jenis konten media sosial, seperti format video potret singkat, menjadi favorit di kalangan mereka karena ketertarikan mereka pada presentasi visual dan audio yang cepat.
Konten yang mereka konsumsi juga berperan dalam membentuk kebiasaan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai ilustrasi, tren minum kopi yang muncul beberapa tahun lalu di media sosial aktif diikuti oleh kalangan Gen Z.
Mereka melihat tren ini sebagai bagian dari gaya hidup modern, sebagai sesuatu yang mengikuti perkembangan zaman, dan dianggap sebagai kekinian yang perlu diikuti. Terlebih lagi, jika mereka menemukan kafe dengan desain yang instagramable, maka tempat tersebut cenderung menjadi lebih populer di kalangan mereka..
Menurut National Coffee Association (NCA), yang dikutip dari liputan6.com, tren minum kopi di kalangan Gen Z mulai muncul pada tahun 2017. Pandemi Covid-19 turut mempercepat tren work from cafe (WFC), di mana mereka mencari coffeeshop yang cocok untuk bekerja, belajar, atau berkumpul dengan teman-teman.
Dari observasi dan pembahasan dengan AI, terdapat beberapa poin fokus yang menjadi perhatian Gen Z terhadap kopi.
Estetika lokasi
Lokasi: Filosofi Kopi Yogyakarta
Gen Z memiliki minat pada nilai estetika dari tempat yang mereka kunjungi, terutama saat menikmati kopi. Bagi mereka, pengalaman bukan hanya sebatas secangkir kopi, melainkan mencakup atmosfer yang menyenangkan dan ramah mood, terutama saat bersama teman-teman.
Penting bagi mereka bahwa lokasi tempat mereka menikmati kopi mampu memberikan lebih dari sekadar minuman. Mereka mencari pengalaman sosial yang hangat dan mengundang, tempat yang tidak hanya memfasilitasi konsumsi kopi, tetapi juga memungkinkan interaksi sosial yang positif di antara mereka dan teman-temannya.
Mereka membutuhkan ruang yang cocok untuk berinteraksi, nongkrong, dan menikmati kopi sesuai dengan preferensi mereka. Oleh karena itu, kriteria desain interior dan atmosfer lokasi menjadi faktor penting dalam menarik perhatian dan memuaskan generasi ini.
Tidak semua Gen Z hanya fokus pada estetika lokasi. Beberapa dari mereka juga menitikberatkan pada cita rasa kopi yang mereka pesan. Mereka lebih cenderung menikmati variasi kopi seperti iced coffee, manual brew, atau jenis lainnya seperti long black.
Generasi ini memiliki selera yang bervariasi, dan mereka menikmati kopi dari jenis arabika dan robusta. Kedua jenis kopi ini memberikan pengalaman rasa yang berbeda tergantung pada metode penyeduhan kopi yang digunakan. Mereka juga tertarik pada variasi menu yang menggabungkan kopi dengan bahan minuman lainnya, seperti latte, matcha, dan sebagainya.
Tren media sosial
Gen Z sangat dipengaruhi oleh tren media sosial, dan mereka lebih cenderung membeli produk kopi yang populer di platform media sosial. Mereka juga lebih cenderung berbagi pengalaman minum kopi mereka di media sosial, yang dapat membantu mendorong tren dan mempengaruhi orang lain.
Teman kreativitas
Gen Z dikenal karena kreativitas dan inovasinya, dan mereka mencari pengalaman minum kopi yang memungkinkan mereka mengekspresikan diri.
Mereka lebih cenderung mengunjungi kedai kopi yang menawarkan minuman yang dapat disesuaikan dan rasa yang unik, serta tempat yang menyediakan ruang bagi mereka untuk mengerjakan proyek kreatif mereka.
Media berekspresi
cast: Syafiq and Arjun Lokasi: Filosofi Kopi Yogyakarta
Gen Z memanfaatkan kopi sebagai medium untuk mengekspresikan diri. Mereka cenderung aktif berbagi pengalaman minum kopi di media sosial, yang dapat memacu tren dan memberikan pengaruh kepada orang lain. Lebih dari itu, mereka memiliki kecenderungan untuk membuat konten yang terkait dengan kopi, seperti fotografi, video, dan postingan blog.
Jadi itulah tentang Kopi dan Gen Z yang kian menarik untuk dibahas. Banyak dari Gen Z, termasuk gue yang mengandalkan kopi untuk melakukan berbagai aktivitas termasuk belajar.
Kopi merupakan salah satu komoditas terpenting di Indonesia, menempati peringkat ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Menurut data dari databoks katadata, Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brazil dan Vietnam, dengan volume produksi mencapai 11.85 juta kantong per 60 kg pada pertengahan tahun 2023.
Di Indonesia, beragam jenis kopi diproduksi, mulai dari kopi arabika dan robusta hingga kopi luwak yang dihasilkan melalui proses unik dari kotoran luwak. Beberapa jenis kopi Indonesia telah meraih ketenaran internasional, terutama di Eropa, berkat cita rasanya yang khas.
Menurut informasi dari indonesiabaik.id, beberapa jenis kopi yang dianggap sebagai yang terbaik dari Indonesia secara global antara lain kopi gayo, kintamani, luwak, jawa, sidikalang, dan toraja. Sebuah film yang terkenal, “Filosofi Kopi” karya Dewi Lestari, mengisahkan bagaimana kopi dengan biji terbaik memiliki kemampuan untuk menceritakan tentang kehidupan.
Film tersebut mengajarkan penontonnya untuk merenungkan tujuan, cita-cita, dan nilai-nilai kehidupan melalui pengalaman unik melalui secangkir kopi terbaik. Dalam artikel ini, gue akan menyampaikan pandangan gue tentang kopi, dengan fokus khusus pada Filosofi Kopi, melalui cerita singkat liburan bersama teman-teman gue.
Series Filosofi Kopi
source: IMDb
Meskipun gue belum sempat nonton film Filosofi Kopi sampai sekarang, series Filosofi Kopi sudah tamat dengan total 10 episode. Series ini mengisahkan tentang dua sahabat, Ben dan Jody, yang ingin berkeliling Indonesia untuk menjual minuman kopi menggunakan combi.
Menurut pandangan gue, tujuan utama mereka selain menjual kopi adalah untuk memperkenalkan cita rasa kopi terbaik Indonesia. Sebagian besar masyarakat di Indonesia masih banyak yang belum benar-benar mengenal cita rasa kopi asli Indonesia.
Dalam episode awal series Filosofi Kopi, diceritakan bagaimana perjalanan mereka dimulai dengan combi yang beranggotakan lima orang. Mereka memulai perjalanan dengan tujuan pertama ke kota Bogor. Sayangnya, mereka tertangkap oleh aparat setempat karena belum memiliki izin untuk berjualan di area tersebut.
Perjalanan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya mencapai Bali. Episode ini jadi favorit gue karena mencapai puncak keseruannya. Terdapat klip di mana seorang turis membeli kopi dari combi, yang menurut gue merupakan upaya bagus untuk memperkenalkan kopi asli Indonesia kepada para turis mancanegara.
Secara keseluruhan, gue suka banget sama series Filosofi Kopi dari episode satu hingga sepuluh. Meskipun banyak drama dan komedi dalam series ini, gue merasa series ini cocok ditonton bagi kalian yang ingin menambah semangat, kreativitas, menjaga persahabatan, hingga meraih cita-cita, semuanya ditemani secangkir kopi.
Perjalanan Gue Menuju Filosofi Kopi
Barista Filosofi Kopi Yogyakarta
Pada Kamis, 8 Februari 2024, gue dan teman-teman memutuskan untuk berlibur di Kota Pelajar, Yogyakarta. Gue dan keempat teman gue memilih untuk menginap di sebuah hotel yang berjarak 2 km dari Malioboro. Pemilihan hotel ini didasarkan pada alokasi budget yang kami miliki dan akses yang strategis untuk memenuhi kebutuhan kami.
Sekitar pukul 9.00 WIB, kami beranjak dari hotel untuk sarapan di Kedai Semesta Abadi, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat menginap kami. Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk sarapan, yang diisi dengan obrolan ngalor-ngidul.
Setelah sarapan, perjalanan kami dilanjutkan menuju Filosofi Kopi Yogyakarta. Gue memutuskan untuk memesan hot long black coffee seharga Rp.26.000, belum termasuk pajak. Secangkir kopi hitam ini sangat pas untuk menemani pagi menjelang siang di Yogyakarta.
Ketika secangkir kopi hitam yang gue pesan tiba di meja depan gue, uap panas yang mengepul diiringi aroma kopi yang menenangkan menyambut kami. Cita rasa kopi yang pahit dengan sentuhan masam membuat gue lebih fokus dan tenang.
Dari sinilah, dimulai cerita Filosofi Kopi versi gue.
Esensi Secangkir Kopi
cast: Syafiq
Menurut gue pribadi, kopi adalah minuman pahit yang efektif mengusir rasa kantuk berkat kandungan kafein di dalamnya. Bagi sebagian orang, kopi seolah menjadi minuman wajib untuk memulai hari.
Namun, pengalaman menikmati kopi akan menjadi berbeda ketika diminum sambil berbincang-bincang dengan individu lain. Meskipun sudah didiamkan selama 2 jam, secangkir kopi panas tetap hangat. Kopi bagi gue dan teman-teman bukan hanya sekadar minuman, tapi juga teman bercengkrama.
Kopi menjadi media yang memungkinkan kami bertukar cerita, pengalaman, dan segala topik perbincangan. Secangkir kopi menjadi saksi bahwa kami berlima adalah teman sejawat dengan latar belakang, minat, dan karakter yang berbeda-beda.
Meskipun kami berasal dari berbagai latar belakang, memiliki minat yang berbeda, dan karakter yang unik, ada satu hal yang menyatukan kami: tempat, fakultas, jurusan, dan kelas saat berkuliah.
Bagi kami, kopi menjadi penyatuan atas segala perbedaan. Termasuk selera humor kami. Kami belajar untuk saling bertoleransi, berkreasi, berkarya, bersemangat, dan berenergi untuk menghadapi berbagai aspek kehidupan.
Secangkir kopi bagi kami bukan hanya sebagai penawar rasa jenuh, penghibur di tengah keriuhan, tetapi juga guru ketika kami harus menyelesaikan tugas skripsi pada saat itu. Rasanya mungkin pahit, tapi manis gula muncul dari percakapan kami setiap harinya.
Kopi mengubah kata menjadi kita
cast: Syafiq and Rafat
“Eh, lo inget ga sih waktu mata kuliah A, kita semua tidur!”
“Hahaha iya juga ya. Udah 2 tahun itu kejadian.”
“Si A malah cabut ke kantin tuh pas mata kuliah dosen killer hahaha.”
Secangkir kopi enggak bisa dipungkiri lagi jadi media yang mengubah setiap kata menjadi kita. Kopi punya kemampuan memberdayakan memori dan emosi manusia, menciptakan momen dari rangkaian kata.
Gue pribadi selalu berharap setiap secangkir kopi yang gue minum bisa jadi momen bersama “kita” pada tegukan terakhir. Pergantian momen setiap detik hingga menit bukan cuma angin lalu yang permisi tanpa jejak. Terlebih, emosi yang tercipta dari banyaknya variabel selain waktu dan kata-kata.
Filosofi Kopi versi gue berbeda dengan apa yang kebanyakan orang pikirkan. Bagi gue, kopi adalah perekat, wadah bersyukur, medium berkreasi, guru kehidupan, dan bahkan pelukis momen lewat visual, audio, atau emosi dalam secangkir kopi.
Paragraf ini jadi bagian terakhir dari Filosofi Kopi versi gue. Enggak ada cerita yang menyentuh di artikel ini. Gue cuma menyampaikan pemikiran dan perasaan gue.
Gue udah kehabisan kata-kata untuk ditulis di artikel ini. Meskipun gitu, silakan lo buat Filosofi Kopi versi lo sendiri.
Perkembangan AI yang masif kian memudahkan kita dalam mengerjakan tugas-tugas. Terlebih, tugas yang melibatkan penulisan artikel, essay, karya ilmiah, dan lainnya. Gen-AI seperti ChatGPT menjadi salah satu solusi untuk membantu penyelesaian tugas lebih cepat.
ChatGPT pertama kali diperkenalkan kepada publik pada 30 November 2022 oleh OpenAI. Sejak pertama kali peluncurannya, AI ini meraih 1 juta pengguna hanya dalam waktu 5 hari. Ketenarannya digandrungi di seluruh dunia karena kemampuannya yang menyerupai kemampuan berbahasa manusia pada umumnya.
ChatGPT mampu memahami berbagai bahasa manusia yang dapat digunakan untuk melakukan prompting. Berkat kemampuannya ini, banyak orang yang menggunakannya untuk berbagai hal seperti menulis artikel, mengedit artikel, membuat lelucon, bahkan menjadi teman curhat sekalipun.
Gue pribadi sudah menggunakannya sejak awal tahun 2023 untuk membantu proses penulisan. Sesekali, gue mencoba untuk membuat lelucon bahkan memintanya membuat coding Python untuk keperluan tertentu.
Buat kalian yang baru menggunakan ChatGPT, ada baiknya untuk segera mengeksplorasi lebih banyak tentang AI ini. Berikut adalah manfaat ChatGPT yang menjadikannya AI serbaguna.
Siapa sangka sebuah AI bisa menjadi tutor kita memasak. ChatGPT dengan kemampuan pemahaman bahasa manusia yang mutakhir, dapat memberikan prosedur memasak yang cukup profesional.
Sebagai contoh, pada gambar di bawah ini, ChatGPT diberikan input prompt berbahasa Inggris:
“Take on the role of a professional chef. I want you to teach me how to cook properly and make delicious food. I will cook the best Indonesian food. Recommend me a list of the 5 best Indonesian foods and how to cook them correctly.”
prompt input
Pada prompt tersebut, ChatGPT akan diminta menjadi seorang chef profesional untuk membantu proses memasak makanan terbaik dari Indonesia.
Dengan memintanya untuk mengambil peran sebagai chef, maka output dari prompt tersebut akan lebih akurat dan terinci. Hal ini karena output yang dihasilkan akan fokus bermain peran hanya sebagai chef.
result output
Akan menjadi berbeda jika kita secara langsung meminta ChatGPT untuk memberikan prosedur memasak makanan secara profesional. Output yang dihasilkan akan lebih general dan kemungkinan kurang berfokus pada proses memasak.
Jadi teman ngobrol
ChatGPT bisa menjadi alternatif ketika kalian sedang tidak ada teman ngobrol berbagai topik yang kalian inginkan.
Sebagai contoh, gue minta ChatGPT untuk berdiskusi mengenai teknologi CPU pada smartphone. Tentunya gue minta ChatGPT untuk mengambil peran agar diskusi menjadi lebih terfokus pada topik yang diinginkan.
“I need someone to chat with regarding technological developments in the smartphone industry. I want to discuss CPU technology on smartphones. Let’s discuss”
prompt input
Setelah itu, kalian bisa secara bebas menanyakan apapun perihal topik yang sedang didiskusikan.
result output
Namun, perlu diingat jika kalian menggunakan ChatGPT secara free, akan ada limitasi terhadap data dan perkembangan terkini. Hal ini disebabkan karena ChatGPT free version hanya didukung dengan data sampai Januari 2022.
Jadi asisten mengerjakan tugas
Berkat adanya AI seperti ini, pengerjaan tugas menjadi lebih fleksibel dan mudah. Kita dapat memanfaatkan kecerdasan ChatGPT untuk membantu mengerjakan tugas seperti bertanya, meminta tolong, hingga mencarikan informasi.
Contohnya, gue minta untuk bantu gue menyelesaikan tugas sosiologi. Gue berikan input prompt seperti berikut agar output yang dihasilkan lebih komprehensif.
“Help me in completing my sociology assignment. I was asked to make a mind map of the history of war and its impact on the social sphere. Please give suggestions, what aspects should I make in the mind map?”
prompt input
Dari jawaban yang diberikan tentunya bukan sebuah bentuk mind map. Output yang dihasilkan justru akan memberikan saran mengenai cabang apa saja yang sebaiknya dicantumkan pada mind map tersebut.
result output
Perlu diingat kembali bahwa, ChatGPT dalam konteks ini digunakan untuk membantu memberikan saran dan masukan. Bukan untuk menyelesaikan tugas secara keseluruhan.
Jadi itulah 3 kegunaan ChatGPT, yang merupakan salah satu Gen-AI terkini dengan kemampuan mutakhir. Penggunaan ChatGPT yang tepat akan menghasilkan output yang tepat juga. Gunakan AI ini seperlunya karena tidak semua tugas dapat diselesaikan dengan menggunakannya.