Enam bulan berlalu sejak aku meninggalkan tempat yang dulu aku berpijak. Kota ini, dengan segala hiruk-pikuknya, memaksaku untuk selalu bergerak. Setiap pagi, aku terbangun di tengah kebisingan yang tak pernah memberi ruang untuk bernafas. Setiap menit terasa seperti tali yang mengikat pundakku, menarikku tanpa henti dari satu kesibukan ke kesibukan lainnya.
Hari ini, tepat enam bulan sejak aku beranjak darimu. Enam bulan sejak aku meninggalkan semua kenangan yang pernah kita buat dengan secangkir kopi. Di tengah rutinitas yang melelahkan, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Aku merasakan panggilan untuk kembali, untuk berdialog lagi denganmu, meski hanya sebentar.
Aku pun kembali. Bertemu denganmu lagi seakan membangkitkan semua perasaan yang sempat hilang. Dalam sepi sore yang ditemani nada biola dari kejauhan, aku menyampaikan semua isi kepalaku yang selama ini tersimpan rapat. Kau mendengarkan dengan tenang, dan seolah-olah bintang di matamu memberi isyarat bahwa kau juga menantikan hari ini.
Wajahmu tak banyak berubah. Senyummu masih sama, ramah dan menenangkan. Enam bulan tak membuat kita benar-benar berjarak, meski waktu tak lagi mengizinkan kita bersama seperti dulu. Hanya enam jam yang bisa kita habiskan bersama hari ini—dan itu pun terasa singkat. Waktu terus berlalu, dan aku tahu, aku harus segera kembali pergi.
Tepat pukul enam sore, aku berlalu. Dengan berat hati, aku meninggalkanmu di tempat yang penuh kenangan itu, bersama secangkir kopi favoritmu yang tak pernah luput dari kebiasaanmu. Aku pergi ke arah barat, sementara kau ke timur, ke jalan yang berbeda. Inilah bagian yang paling aku benci: perpisahan yang tak terhindarkan.
Meskipun pertemuan kita hanya berlangsung enam jam, dan sudah enam bulan sejak terakhir kali kita bersama, aku tetap merasa beruntung. Setidaknya kau menyediakan waktu untukku, waktu yang begitu berharga di tengah semua kesibukan.
Namun, ini bukan akhir. Aku tahu, suatu saat nanti aku akan kembali. Bukan hanya untuk enam jam, tapi untuk waktu yang lebih lama. Intuisiku mengatakan bahwa aku akan kembali ke tempat di mana kau berdiri, ke tempat di mana kau terus meniti karir dan menjalani hidupmu.
Untuk saat ini, aku harus bersabar, menanti saat itu tiba. Dan sampai waktu itu datang, kenangan ini akan terus hidup dalam ingatanku, seperti lukisan perjalanan yang terus menemani langkah-langkahku di depan.
This article will be written in Bahasaand talk about September
“Of all the things I still remember Summer’s never looked the same The years go by and time just seems to fly But the memories remain”
—Daughtry, September
Seiring hari berganti, tanpa kita sadari, bulan Agustus telah berlalu. Kini, September hadir dengan lembar kanvas putih yang baru, menunggu kita untuk mulai melukis lagi. Kanvas Agustus sudah kita lipat, dengan segala memori yang terekam, peristiwa yang tergambar, bercampur menjadi satu dalam warna-warna kehidupan.
September, satu bulan yang akan mewarnai kanvas baru tahun 2024. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, apa yang akan tertulis, terlukis, dan terekam dalam memori. Hanya ada harapan, prediksi, dan rencana yang kita siapkan untuk melukis bebas di atas kanvas ini.
Tahun lalu, September 2023, sebagian dari kita melukis perjalanan hidup dengan beragam warna. Ada yang hitam, abu-abu, merah, jingga, biru, hijau, bahkan putih yang seolah sama dengan warna kanvas itu sendiri. Namun, pada akhirnya, hanya ada dua jenis memori yang sering kita tafsirkan: memori baik dan memori buruk.
September punya keunikan tersendiri bagi setiap orang. Kalau aku boleh bertanya, apa yang paling berkesan dari bulan September bagi kamu? Mungkin kamu pernah menerima surat cinta? Ditinggal kekasih? Atau kamu memenangkan sebuah kompetisi? Atau bahkan berhasil meraih sesuatu yang selama ini kau dambakan? Share your experiences in the comment below ya!
Let’s Go Back to September
Bagi sebagian orang, September adalah momen awal, ketika mereka memulai sesuatu yang baru. Mulai bersekolah, bekerja, membangun bisnis, atau bahkan merajut kisah cinta. Momen-momen ini diwarnai dengan semangat, kebahagiaan, kesedihan, atau mungkin perasaan yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
Semua perasaan itu terhimpun menjadi satu dalam sebuah kanvas kecil di memori kita. Bukan hanya memori yang tertanam di otak, tetapi juga di hati, di nurani kita. Tempat-tempat yang kita kunjungi, orang-orang yang kita temui, bahkan melodi yang sudah terekam jelas, semuanya menjadi bagian yang tak terhapus dari kanvas nurani kita.
Apapun yang terekam, pasti memiliki makna bagi kenangan kita. Entah itu memori yang menyenangkan, menyedihkan, atau sekadar biasa saja. Tak ada satupun kenangan, baik atau buruk, yang tak bernilai; setiap memori itu punya tempat tersendiri dalam hati kita.
Ditinggal kekasih, putus cinta, gagal meraih cita-cita, patah hati, diingkari, dikhianati, ditinggal sendiri, diacuhkan, dibiarkan, disingkirkan, bahkan merasa tak diinginkan—hanya sebagian kecil dari rekaman buruk yang mungkin tercipta.
Memang, rasanya pahit. Tapi coba lihat dari sisi lain. Dukungan teman, tempat curhat, bunga yang diterima, foto-foto dengan sahabat, perjalanan bersama, canda tawa dengan hewan peliharaan—semua itu adalah bagian dari memori September yang tak tergantikan.
“In the middle of September we’d still play out in the rain Nothing to lose but everything to gain Reflecting now on how things could’ve been It was worth it in the end”
Terlepas dari memori apapun yang tercipta sejak September tahun lalu, kita perlu bersyukur. Jika tidak ada September tahun lalu, mungkin aku bukanlah orang yang sama seperti hari ini, atau mungkin tetap sama, tapi dengan pandangan yang berbeda.
Banyak hal yang seharusnya kita pelajari untuk menjadi diri yang lebih baik. Kita belajar dari tawa, dari air mata, dari hubungan dengan orang-orang yang kita cintai, yang semuanya memberikan warna dan rasa pada hidup kita.
Kalau kita mau sejenak merenungi perjalanan hidup sejak September tahun lalu, kenangan apa yang paling berkesan? Apakah itu tawa atau air mata? Apakah penerimaan atau penolakan yang kamu terima? Kalau kamu tanya aku, aku tak peduli.
Hari ini adalah 1 September 2024. Kanvas baru sudah mulai ku lukis dengan cerita hari ini. Hari ini aku menulis artikel untuk kalian, untuk diriku sendiri. Aku tidak tahu siapa kalian yang membaca tulisanku ini, tapi aku bersyukur jika apa yang kutulis bisa bermanfaat bagi kalian.
Aku tidak akan menunggu cerita hingga 30 September nanti. Akulah yang akan melukis ceritanya. Apapun yang terjadi sampai 30 September, itulah cerita yang kutulis.
Kanvas ini masih putih. Hari ini, kulukis dengan tinta putih. Aku menantikan warna-warna lain yang akan menari di kanvasku. Aku berharap tidak ada warna abu-abu, tapi jika itulah takdir Tuhan, yasudah.
Artikel ini terinspirasi dari sebuah lagu yang dipopulerkan oleh Daughtry dengan judul ‘September’.
Terimakasih bagi kalian yang sudah membaca sampai akhir. Kalau kalian ingin sharing pengalaman paling berkesan dari bulan September yang pernah kalian alami, silakan ceritakan pada kolom komentar di bawah.
Setiap hari, manusia merekam apa yang dilihat, didengar, dibaca, dan diucapkan. Otak kita secara tidak sadar mengubah semua itu menjadi memori atau data kehidupan, yang menjadi lukisan perjalanan hidup kita.
Banyak dari kita, termasuk saya, melukis setiap momen dengan baik tanpa disadari. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan, dan cium menjadi rantai yang menghubungkan peristiwa dan memori.
Seringkali, kita ingin mengulang peristiwa berkesan, tetapi waktu tidak mengizinkan. Beruntung, Tuhan memberikan kita memori. Memori yang berharga, berkesan, dan tak tergantikan, kombinasi ingatan di otak dan rasa di hati nurani.
Memori berkesan masa sekolah
Masa-masa sekolah adalah salah satu momen yang ingin diulangi. Pernahkah kalian merasa masa sekolah adalah masa paling menyenangkan? Belajar, bergurau, bermain, dan bepergian bersama teman-teman, masa itu terlewatkan sekitar setahun lalu bagi saya.
Suatu ketika, saya ingin kembali ke beberapa tahun lalu. Memori saya memanggil, seolah meminta untuk mengulangi peristiwa 1-2 tahun lalu, tetapi saya tidak bisa. Yang bisa saya lakukan adalah membuka memori tersebut dan melihat kembali lukisan perjalanan dari setiap momen yang terjadi. Beruntung, lukisan itu bisa kembali terbuka dengan bantuan lagu yang menghangatkan hati.
Lagu “Reunion” oleh Bon Jovi bercerita tentang reuni masa kecil yang telah berlalu. Lagu ini menggambarkan perubahan sejak seseorang memulai kehidupan baru pasca sekolah. Dalam video klip “Reunion,” terlihat orang dewasa mengenang momen masa kecil dengan bercengkrama dengan anak-anak. Mereka sudah memiliki jalan hidup masing-masing.
Lirik lagu ini mendorong setiap orang untuk hidup dengan optimis, menyampaikan harapan bahwa hidup memiliki banyak pilihan. Seperti garpu yang memiliki beberapa cabang, ujungnya tetap menuju makanan. Begitu pula dengan pilihan hidup kita.
Oh, write your song, sing along, love your life Learn to laugh, dare to dance, touch the sky
Bagian reff mendorong kita untuk menertawakan kesedihan, menari di atas masalah, dan meraih hal yang mustahil. Lagu ini juga bercerita tentang teman yang datang dan pergi.
“Reunion” mengajarkan kita untuk tidak bersedih dan terus melihat ke depan dengan optimis, sehingga dapat melakukan reuni dengan teman-teman tercinta. Bon Jovi mengajak kita memperbaiki diri tanpa melihat ke belakang. Teruslah melukis perjalanan indah dan momen berkesan menjadi memori.
Kita tidak tahu kapan memori kita akan memanggil. Yang bisa kita siapkan untuk masa depan adalah optimis, gigih, tekun, dan yakin. Bukan meratapi lukisan memori yang sudah kita buat.
Berapa lama waktu yang kalian butuhkan untuk belajar? 1 jam? 2 jam? Atau bahkan 3 jam? Bagi gue, itu terlalu lama. Gue bisa meringkas waktu belajar 3 jam menjadi 1 jam. Gimana caranya? Ini trik yang gue lakukan! Yuk kita bahas!
Sejak diluncurkannya Chat GPT pertama kali pada 30 November 2022, publik dibuat heboh dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Pasalnya, Chat GPT adalah artificial intelligence (AI) pertama yang dapat diakses secara free oleh seluruh pengguna internet di dunia.
Chat GPT dengan kemampuannya yang canggih dapat memberikan informasi apapun yang kita minta. Informasi tersebut di-generate dari hasil training yang telah dilakukan oleh Open AI dengan data tertentu.
Kemiripannya dengan mesin pencari seperti Google, Chat GPT menawarkan fungsi lain yang lebih advance. Chat GPT dapat dipersonalisasi sesuai kebutuhan yang kita inginkan. Tidak seperti Google Search yang menghasilkan informasi tanpa summary, Chat GPT berkemampuan sebaliknya.
Dari kemampuannya tersebut, hanya dalam kurun waktu 5 hari, Chat GPT telah mencapai 1 juta pengguna. Daya tarik Chat GPT telah meracuni banyak kaum muda untuk mencoba generative AI pertama kalinya.
Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 14.6 miliar kunjungan ke web Chat GPT. Ini merupakan angka yang fantastis dari seluruh pengguna internet di dunia yang memanfaatkan Chat GPT untuk berbagai kebutuhan.
Gue pribadi memanfaatkan Chat GPT untuk belajar. Gue sudah berkali-kali mempersonalisasikan Chat GPT untuk gue pake belajar dan itu berhasil. Proses personalisasi ini tidak begitu rumit, namun membutuhkan ketepatan dalam melakukan prompting.
Yes, Chat GPT memerlukan prompting yang sesuai agar output menjadi maksimal. Gue akan share ke kalian gimana cara gue untuk prompt Chat GPT, termasuk generatif AI lainnya agar output menjadi maksimal.
1. Take a role as…
Sebelum gue cari informasi yang gue butuhkan untuk belajar, biasanya gue minta Chat GPT untuk jadi seseorang terlebih dahulu. Kok begitu? Ini berguna agar kita mendapatkan sudut pandang secara real dari penokohan tertentu.
Contohnya, gue mau belajar bisnis dari sudut pandang CEO perusahaan teknologi besar seperti Google. Atau gue mau belajar bisnis dari sudut pandang seorang disruptor yaitu Elon Musk secara langsung.
Misalnya gue mau belajar dari Elon Musk bagaimana cara merevolusi industri pendidikan di era digital. Seperti ini contoh promptnya:
“Take a role as Elon Musk and use his perspective in running a business. I need a perspective on how we need to disrupt the education system in the digital era.”
Cara ini berguna untuk mempelajari bagaimana cara pandang seorang pelaku industri tertentu terhadap suatu topik. Dari hasil prompt yang gue generate, secara general output dari Chat GPT cukup menggambarkan perspektif Elon Musk.
Berdasarkan output yang tertera pada gambar, Elon Musk akan melakukan leveraging teknologi untuk membuat personalisasi metode belajar. Penggunaan teknologi dapat memperbaiki metode ajar dan disesuaikan dengan karakter masing-masing siswa.
Kira-kira seperti itu cara pandang Elon Musk ketika gue minta Chat GPT menjadi beliau.
2. Please help me to understand…
Setelah meminta Chat GPT menjadi Elon Musk, gue akan minta AI untuk bantu gue paham sebuah topik. Pada contoh kali ini gue akan lanjut bahas topik disrupsi pada bidang edukasi
Contohnya seperti ini:
“Please help me to understand how you leverage technology into the traditional education system? Many developed countries have difficulty incorporating technology into their education systems. What do you think?”
Prompt seperti ini membantu kita untuk memahami sesuatu lebih direct. Contoh yang gue kasih adalah gimana cara Elon Musk untuk leverage teknologi ke dalam sistem edukasi saat ini.
Gue mencoba untuk mengambil sudut pandang Elon Musk sebagai pelaku industri yang revolusioner. Ada beberapa sudut pandang yang gue sebetulnya kurang paham. Tapi tenang aja, kita coba dive deeper dengan cara yang lebih sederhana di poin selanjutnya.
3. Can you explain … in the simplest way?
Kali ini gue akan dive deeper agar gue lebih paham bagian yang gue ga paham. Gue akan meminta Elon Musk menjelaskan kembali dengan bahasa dan tata kalimat yang lebih sederhana.
Contohnya seperti ini:
“Can you explain the seventh point “Encouraging Collaborative Learning” where you say we need to do something like in the SpaceX culture. please also explain to me the second point “Combining Online and Offline Learning” in the simplest way”
4. Suppose I am a high school student, explain to me everything you know about…
Setelah gue minta Chat GPT jelaskan apapun yang gue minta, namun gue masih belum paham semua itu. Kali ini gue akan minta Chat GPT untuk menyederhanakan penjelasannya.
Prompt yang gue tulis untuk menyederhanakan semua materi itu adalah sebagai berikut:
“Suppose I am a high school student, explain to me everything you know about effective group projects that leverage technology into the education system.”
Di sini gue impersonate menjadi siswa SMA. Tujuannya adalah agar output menjadi selaras dengan tingkatan pemahaman kita. Hasilnya menjadi seperti ini:
Prompt seperti ini berguna ketika kalian sulit memahami suatu hal yang kompleks. Prompt ini juga bermanfaat bagi kalian yang masih awam/pemula ketika belajar hal baru.
Jadi, itulah cara cerdik gue belajar apapun yang sulit dipahami dalam 1 jam. Prompt di atas dapat kalian coba juga untuk mempercepat proses belajar kalian.
Mengingat, dunia akan semakin dinamis, bahkan dalam 6 bulan kedepan pun terasa sulit diprediksi apa yang akan terjadi. Musuh kita bukanlah AI atau mesin otomatis. Namun, musuh kita adalah mereka yang menggunakan AI.
Akan sangat kontras perbedaan antara orang yang menggunakan AI dan tidak. Dunia saat ini sudah tidak meminta kita untuk belajar 1 Bab dalam 1 minggu. Kita dituntut belajar 1 Bab dalam 1 hari.
Lalu, bagaimana cara cepatnya? Ya pake AI. Seperti cara cerdik yang gue lakukan sejak Chat GPT diperkenalkan kepada publik.
Terimakasih buat kalian yang sudah baca sampai akhir. Setidaknya artikel ini dalam menginformasikan apa yang gue biasa lakukan ketika proses belajar. Ambil baiknya, buang buruknya.
Kopi merupakan salah satu komoditas terpenting di Indonesia, menempati peringkat ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Menurut data dari databoks katadata, Indonesia berada di peringkat ketiga sebagai produsen kopi terbesar di dunia, setelah Brazil dan Vietnam, dengan volume produksi mencapai 11.85 juta kantong per 60 kg pada pertengahan tahun 2023.
Di Indonesia, beragam jenis kopi diproduksi, mulai dari kopi arabika dan robusta hingga kopi luwak yang dihasilkan melalui proses unik dari kotoran luwak. Beberapa jenis kopi Indonesia telah meraih ketenaran internasional, terutama di Eropa, berkat cita rasanya yang khas.
Menurut informasi dari indonesiabaik.id, beberapa jenis kopi yang dianggap sebagai yang terbaik dari Indonesia secara global antara lain kopi gayo, kintamani, luwak, jawa, sidikalang, dan toraja. Sebuah film yang terkenal, “Filosofi Kopi” karya Dewi Lestari, mengisahkan bagaimana kopi dengan biji terbaik memiliki kemampuan untuk menceritakan tentang kehidupan.
Film tersebut mengajarkan penontonnya untuk merenungkan tujuan, cita-cita, dan nilai-nilai kehidupan melalui pengalaman unik melalui secangkir kopi terbaik. Dalam artikel ini, gue akan menyampaikan pandangan gue tentang kopi, dengan fokus khusus pada Filosofi Kopi, melalui cerita singkat liburan bersama teman-teman gue.
Series Filosofi Kopi
source: IMDb
Meskipun gue belum sempat nonton film Filosofi Kopi sampai sekarang, series Filosofi Kopi sudah tamat dengan total 10 episode. Series ini mengisahkan tentang dua sahabat, Ben dan Jody, yang ingin berkeliling Indonesia untuk menjual minuman kopi menggunakan combi.
Menurut pandangan gue, tujuan utama mereka selain menjual kopi adalah untuk memperkenalkan cita rasa kopi terbaik Indonesia. Sebagian besar masyarakat di Indonesia masih banyak yang belum benar-benar mengenal cita rasa kopi asli Indonesia.
Dalam episode awal series Filosofi Kopi, diceritakan bagaimana perjalanan mereka dimulai dengan combi yang beranggotakan lima orang. Mereka memulai perjalanan dengan tujuan pertama ke kota Bogor. Sayangnya, mereka tertangkap oleh aparat setempat karena belum memiliki izin untuk berjualan di area tersebut.
Perjalanan mereka terus berlanjut, hingga akhirnya mencapai Bali. Episode ini jadi favorit gue karena mencapai puncak keseruannya. Terdapat klip di mana seorang turis membeli kopi dari combi, yang menurut gue merupakan upaya bagus untuk memperkenalkan kopi asli Indonesia kepada para turis mancanegara.
Secara keseluruhan, gue suka banget sama series Filosofi Kopi dari episode satu hingga sepuluh. Meskipun banyak drama dan komedi dalam series ini, gue merasa series ini cocok ditonton bagi kalian yang ingin menambah semangat, kreativitas, menjaga persahabatan, hingga meraih cita-cita, semuanya ditemani secangkir kopi.
Perjalanan Gue Menuju Filosofi Kopi
Barista Filosofi Kopi Yogyakarta
Pada Kamis, 8 Februari 2024, gue dan teman-teman memutuskan untuk berlibur di Kota Pelajar, Yogyakarta. Gue dan keempat teman gue memilih untuk menginap di sebuah hotel yang berjarak 2 km dari Malioboro. Pemilihan hotel ini didasarkan pada alokasi budget yang kami miliki dan akses yang strategis untuk memenuhi kebutuhan kami.
Sekitar pukul 9.00 WIB, kami beranjak dari hotel untuk sarapan di Kedai Semesta Abadi, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat menginap kami. Kami menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk sarapan, yang diisi dengan obrolan ngalor-ngidul.
Setelah sarapan, perjalanan kami dilanjutkan menuju Filosofi Kopi Yogyakarta. Gue memutuskan untuk memesan hot long black coffee seharga Rp.26.000, belum termasuk pajak. Secangkir kopi hitam ini sangat pas untuk menemani pagi menjelang siang di Yogyakarta.
Ketika secangkir kopi hitam yang gue pesan tiba di meja depan gue, uap panas yang mengepul diiringi aroma kopi yang menenangkan menyambut kami. Cita rasa kopi yang pahit dengan sentuhan masam membuat gue lebih fokus dan tenang.
Dari sinilah, dimulai cerita Filosofi Kopi versi gue.
Esensi Secangkir Kopi
cast: Syafiq
Menurut gue pribadi, kopi adalah minuman pahit yang efektif mengusir rasa kantuk berkat kandungan kafein di dalamnya. Bagi sebagian orang, kopi seolah menjadi minuman wajib untuk memulai hari.
Namun, pengalaman menikmati kopi akan menjadi berbeda ketika diminum sambil berbincang-bincang dengan individu lain. Meskipun sudah didiamkan selama 2 jam, secangkir kopi panas tetap hangat. Kopi bagi gue dan teman-teman bukan hanya sekadar minuman, tapi juga teman bercengkrama.
Kopi menjadi media yang memungkinkan kami bertukar cerita, pengalaman, dan segala topik perbincangan. Secangkir kopi menjadi saksi bahwa kami berlima adalah teman sejawat dengan latar belakang, minat, dan karakter yang berbeda-beda.
Meskipun kami berasal dari berbagai latar belakang, memiliki minat yang berbeda, dan karakter yang unik, ada satu hal yang menyatukan kami: tempat, fakultas, jurusan, dan kelas saat berkuliah.
Bagi kami, kopi menjadi penyatuan atas segala perbedaan. Termasuk selera humor kami. Kami belajar untuk saling bertoleransi, berkreasi, berkarya, bersemangat, dan berenergi untuk menghadapi berbagai aspek kehidupan.
Secangkir kopi bagi kami bukan hanya sebagai penawar rasa jenuh, penghibur di tengah keriuhan, tetapi juga guru ketika kami harus menyelesaikan tugas skripsi pada saat itu. Rasanya mungkin pahit, tapi manis gula muncul dari percakapan kami setiap harinya.
Kopi mengubah kata menjadi kita
cast: Syafiq and Rafat
“Eh, lo inget ga sih waktu mata kuliah A, kita semua tidur!”
“Hahaha iya juga ya. Udah 2 tahun itu kejadian.”
“Si A malah cabut ke kantin tuh pas mata kuliah dosen killer hahaha.”
Secangkir kopi enggak bisa dipungkiri lagi jadi media yang mengubah setiap kata menjadi kita. Kopi punya kemampuan memberdayakan memori dan emosi manusia, menciptakan momen dari rangkaian kata.
Gue pribadi selalu berharap setiap secangkir kopi yang gue minum bisa jadi momen bersama “kita” pada tegukan terakhir. Pergantian momen setiap detik hingga menit bukan cuma angin lalu yang permisi tanpa jejak. Terlebih, emosi yang tercipta dari banyaknya variabel selain waktu dan kata-kata.
Filosofi Kopi versi gue berbeda dengan apa yang kebanyakan orang pikirkan. Bagi gue, kopi adalah perekat, wadah bersyukur, medium berkreasi, guru kehidupan, dan bahkan pelukis momen lewat visual, audio, atau emosi dalam secangkir kopi.
Paragraf ini jadi bagian terakhir dari Filosofi Kopi versi gue. Enggak ada cerita yang menyentuh di artikel ini. Gue cuma menyampaikan pemikiran dan perasaan gue.
Gue udah kehabisan kata-kata untuk ditulis di artikel ini. Meskipun gitu, silakan lo buat Filosofi Kopi versi lo sendiri.
Tepat 1 Januari 2024 pukul 8.34 WIB, gue membuka laptop kesayangan gue dan mencari laman YouTube di mesin pencarian. Lagu pertama yang terngiang di kepala gue untuk dicari adalah New Year’s Day by Bon Jovi.
Vibes lagu ini cocok banget diputar di hari pertama tahun 2024 yang baru saja berjalan sekitar 8 jam ketika gue menulis artikel ini. Yuk, kita simak ulasan gue tentang lagu New Year’s Day karya Bon jovi.
Ulasan New Year’s Day – Bon Jovi
Nuansa lagu ini sama persis seperti judulnya yang mengusung tema “New Year”. New Year’s Day dirilis pada tahun 2016 dalam album “This House Is Not For Sale” dengan genre rock.
Ya, gue memang suka genre rock, terutama slow rock. Kalian bisa baca lengkap alasan gue kenapa gue suka genre slow rock di sini.
Lagu New Year’s Day diawali dengan vibes solo guitar yang dimainkan Phil X, seorang gitaris pengganti Richie Sambora pada tahun 2013. Opening lagu ini menurut gue memberikan nuansa gembira menyambut hari pertama di tahun baru.
Hal ini tercermin juga dari kalimat pertama pada lirik opening yaitu “The midnight bells are ringing”. Kalimat ini mengesankan bahwa pergantian tahun sudah berlalu dan hari baru menyambut kita.
Lirik Lagu New Year’s Day – Bon Jovi
Bicara soal lirik lagu, New Year’s Day menurut gue memiliki bait-bait yang multitafsir. Misalnya, pada bagian “This message in a bottle The wisdom of the wine It’s just a rainy Monday This isn’t Auld Lang Syne” yang bermakna kiasan.
To be honest gue belum tahu apa arti ‘Auld Lang Syne’ dalam lagu konteksnya apa, tapi berdasarkan Google bisa disebut ‘Old Long Since’. Kalau kalian tahu artinya, komentar aja ya di bawah.
Dari keseluruhan lagu ini, part favorit gue adalah “Let’s toast to new beginnings okay Raise up a glass and say For all of our tomorrows And what was yesterday come on”. Bagian ini sering disebut intro tengah yaitu setelah reff pertama.
Tafsir gue terhadap lirik tersebut adalah sudah saatnya kita merayakan tahun baru dengan awal yang baru. Tidak peduli kalian seperti apa kemarin, tapi lupakanlah kemarin. Katakan kepada dunia, esok hari pasti lebih cerah.
Menurut gue, lagu ini cocok buat kalian penggemar musik slow rock bernuansa asik, ceria, dan santai. Tidak semua musik rock berkesan ‘teriak-teriak’, namun ada juga seperti Bon Jovi ini yang terkesan lebih tenang.
Jadi itu saja yang bisa gue share ke kalian tentang lagu pertama yang gue putar di tahun 2024. Lagu ini sesuai dengan judul dan tema nya yaitu ‘New Year’ yang menyambut tahun 2024 penuh sukacita.
“Percaya atau tidak, kehidupan kalian ditentukan dari kata yang kalian ucap, dengar, tulis, baca, bahkan mengerti. Sehingga kalian mampu berpikir, bertindak, dan memutuskan berdasarkan kata-kata tersebut. Pada akhirnya, kalian turut membuat rangkaian kata dari pengalaman kalian.”
*Artikel ini berisi tulisan abstrak yang sulit dipahami. Jika kalian bukan orang pendengar atau pembaca, segera tutup laman blog ini dan pergi. Silakan!”
Manusia terlahir tanpa interpretasi terhadap kata. Ia terlahir dengan tangisan. Kata pertama yang ia dengar mungkin singkat, berarti kebahagian, dan rasa syukur dari sekeliling yang menyaksikannya. Ia belum mengerti, arti kata “selamat”, “hore”, alhamdulillah”, bahkan “akhirnya”.
Kita, manusia, setiap saat mengucap, mendengar, membaca, dan menulis kata-kata. Entah itu secara aktif maupun pasif. Kepiawaian ini baru kita dapat setelah 4 tahun sejak tangisan pertama. Mulailah kita paham arti kata “aku”, “makan”, “main”, dan lainnya yang merupakan kata dasar.
Source: pexels.com
Kata-kata tersebut kita dapat sepanjang hari mendengarkan, kemudian berinteraksi. Mereka yang mengajarkan kita untuk mendengarkan terlebih dahulu, baru meminta kita untuk menyahut. Ada yang kita mengerti, ada yang tidak. Ada yang tanpa sadar masuk ke kepala kita, dan akhirnya tanpa sadar turut mengucap.
Bertahun-tahun kita mendengarkan hingga mengerti, butuh proses yang kompleks di kepala untuk bisa paham maksud dari suatu kata. Sebagai contoh, kata “rayu” yang identik dengan menggoda lawan jenis, nyatanya bukan hanya itu. Ada tafsir lain yang jika kita rangkai akan menjadi lebih indah dari makna kata “rayu”.
Banyak dari kita, menggeneralisasi arti suatu kata. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, ragam arti menjadikannya lebih indah. Seperti sekarang, Anda menerka isi artikel ini berdasarkan judul yang Anda baca. Bagi saya, artikel ini cukup jauh dari makna judul yang saya buat. Mungkin bagi orang selain kita akan beda lagi tafsirannya.
Hal ini adalah lumrah, ada sekelompok yang memang hanya mendengar dan mengerti satu tafsiran. Tapi, ada kelompok lain yang memahaminya lebih luas, lebih kompleks, lebih dalam, bahkan lebih menyentuh. Ini tentang bagaimana Anda merespons setiap kata yang Anda tangkap.
Sebagai hasilnya, Anda akan bertindak dari kata yang Anda tafsirkan. Anda mendengar, membaca, menulis, mengucap, dan berlaku sesuai apa yang Anda pahami. Proses ini tidak sebentar karena membutuhkan waktu lama untuk lihai memainkan peran ini. Tidak mudah, tapi bisa dilakukan siapapun.
Ini adalah bagian akhir dari artikel “Dari Kata Menjadi Kita” yang singkat. Anda boleh mengartikan seluruh artikel ini adalah sebuah sastra, definisi, karya tulis ilmiah, bahkan artikel berita. Saya membebaskan Anda karena kita memiliki perbedaan dalam mengartikan kata.
Bisa saja Anda mengira saya sedang curhat atau berekspresi. Namun, itu bukan tujuan utama saya. Silakan Anda cari sendiri destinasi yang ingin dicapai oleh artikel ini. Akan bermuara kemana artikel ini, bergantung dari arah Anda mendayung pemahaman.
Buat kalian kaum Adam yang tumbuh pada era 90-an hingga 2000-an, pastinya sudah tidak asing lagi dengan genre musik slow rock. Musik ini telah memikat hati berbagai generasi, termasuk gue yang merupakan bagian dari generasi Z. Dibandingkan dengan musik rock kebanyakan yang cenderung bernuansa metal dan vokalis yang seringkali “teriak-teriak” saat bernyanyi, genre slow rock memberikan sentuhan berbeda dengan perpaduan antara pop dan rock, menghasilkan alunan musik yang romantis dan melankolis namun tetap mempertahankan unsur rock yang kuat.
Menurut gue, musik ini memiliki daya tarik yang abadi dari masa ke masa. Lirik-liriknya seringkali bertema percintaan, tetapi tidak sedikit pula musisi slow rock yang menulis lirik dengan tema sosial atau kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, lagu Bon Jovi berjudul “Lost Highway,” yang mengisahkan tentang seseorang kehilangan arah dalam hidupnya. Hal ini tercermin dari lirik yang menyebutkan “…Don’t know where I’m going But I know where I’ve been I’m afraid of going back again…” Secara keseluruhan, lagu ini menceritakan perjalanan menemukan jalan hidup yang baru setelah tersesat di masa lalu. Tanpa melihat ke belakang, lebih baik menginjak pedal gas kehidupan untuk terus maju, bahkan jika harus tersesat di jalur yang salah.
Salah satu lagu lain yang mengisahkan tentang percintaan adalah “To Be With You” dari Mr. Big. Lagu ini sangat populer di kalangan anak muda pada era 90-an hingga 2000-an dan sering menjadi pilihan lagu karaoke dengan iringan gitar akustik di berbagai tongkrongan.
Source: pexels.com
Ada beberapa alasan mengapa musik ini begitu digemari oleh berbagai kalangan, termasuk saya, generasi Z.
1. Irama
Irama slow rock memiliki daya tarik tersendiri. Meskipun tidak sekuat irama rock, perpaduan dengan elemen pop membuatnya memberikan rasa tenang dan kebahagiaan. Ini mungkin berbeda bagi setiap orang, namun inilah yang saya rasakan. Baik sedang bekerja, berjalan-jalan, berolahraga, bersantai, membaca, atau bahkan saat sedang stres, genre ini bisa memberikan ketenangan, termasuk untuk gue.
2. Lirik
Lirik lagu slow rock seringkali memiliki sastra atau penyusunan kata yang sangat baik. Banyak lagu menggunakan kiasan, seperti lagu “Welcome To Wherever You Are” dari Bon Jovi yang menceritakan perjuangan seseorang sejak lahir hingga dewasa. Meskipun melewati kekalahan, hal tersebut membawanya menjadi pribadi yang lebih kuat dan maju.
3. Popularitas
Tak bisa disangkal, gue terpapar oleh musik slow rock karena lagu-lagu ini sangat populer di seluruh dunia. Bahkan ada lagu ikonik seperti “Dear God” dari Avenged Sevenfold yang masih menjadi andalan anak-anak warnet. Popularitas lagu ini tetap tinggi dan masih menjadi playlist utama di tempat-tempat nongkrong dengan pengiring gitar akustik.
Dengan kombinasi irama yang menenangkan sekaligus menggairahkan semangat, lirik yang mendalam, dan popularitas yang tak terbantahkan, tidak heran musik slow rock tetap menjadi favorit di kalangan generasi Z dan generasi sebelumnya. Bagi gue, ini adalah soundtrack yang mendefinisikan momen-momen berharga dalam hidup.