Pada 31 Maret 2025, umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Fitri—hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Lebaran bukan hanya soal baju baru atau makanan enak, tapi juga simbol keberhasilan kita dalam menahan hawa nafsu dan makin dekat sama Allah SWT.
Ini adalah momen spesial yang penuh vibes kebahagiaan, dimana kita bersyukur karena bisa melewati Ramadhan dengan baik.
Momen Idul Fitri (Lebaran)
Idul Fitri jadi momen buat kita refresh hati dan bersyukur. Setelah sebulan menahan lapar, haus, dan segala godaan duniawi, kita balik lagi ke fitrah—jiwa yang lebih bersih. Takbir berkumandang di mana-mana, membuat kita sadar bahwa semua ini adalah berkah dari-Nya. Tradisi saling memaafkan juga jadi bagian penting dari Lebaran, biar kita bisa mulai lembaran baru tanpa beban.
Selain jadi hari kemenangan setelah berpuasa, lebaran juga identik dengan kumpul keluarga dan silaturahmi. Banyak yang rela macet-macetan untuk mudik, ketemu orang tua, saudara, dan teman lama. Ini juga jadi waktu pas buat berbagi kebahagiaan, entah lewat THR, makanan, atau sekadar obrolan hangat yang bikin kangen terobati.
Momentum Upgrade Diri
Tapi Lebaran bukan sekadar euforia sesaat. Ini juga jadi momen buat upgrade diri. Setelah sebulan belajar sabar, disiplin, dan peduli sama sekitar, kita bisa bawa kebiasaan baik ini ke kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang mulai mikirin gimana bisa jadi versi terbaik dari diri mereka setelah Ramadhan. Intinya, Lebaran itu bukan akhir, tapi titik awal buat jadi lebih baik.
Jadi, Lebaran bukan cuma soal opor ayam dan ketupat, tapi juga tentang refleksi diri. Apa aja yang udah kita dapat dari Ramadhan? Gimana kita bisa terus jadi pribadi yang lebih baik sampai ketemu Ramadhan berikutnya? Yuk, jadikan Idul Fitri ini sebagai start fresh buat hidup yang lebih bermakna.
Pada 27 Januari 2025, DeepSeek, AI asal China menggemparkan pasar saham perusahaan teknologi Amerika. Pasalnya, AI ini membuat saham NVIDIA anjlok sebesar 17%. Selain itu, perusahaan teknologi asal Belanda yaitu ASML, mengalami penurunan sebesar 8.9%
DeepSeek memperkenalkan model AI seperti Chat GPT dengan kemampuan yang diklaim jauh lebih baik. Berdasarkan laporan dari statista.com, model R1 unggul 2-20% dari model Claude, GPT, dan Open AI dalam pengetesan menggunakan beberapa benchmark.
Meskipun memiliki performa yang lebih unggul, model R1 dikembangkan dengan biaya 10% lebih rendah yaitu 6 juta USD dibandingkan GPT yang menghabiskan dana sebesar 63 juta USD. Hal ini dikarenakan DeepSeek menggunakan chip NVIDIA H800 dengan performa yang lebih rendah dari NVIDIA H100 yang digunakan oleh GPT.
Penggunaan NVIDIA H800 disebabkan karena pembatasan chip yang diberlakukan Amerika terhadap China. Namun, hal ini justru menjadi berkah bagi para AI developer China. Mereka memanfaatkan resources yang ada dan mudah diakses untuk membuat AI berkemampuan tinggi dengan biaya yang efisien.
Terdapat beberapa perbedaan dari output yang dihasilkan oleh keduanya. Hal ini dapat disebabkan oleh penggunaan chip dan arsitektur model yang juga berbeda.
Pengujian DeepSeek vs Chat GPT
Banyak media dari seluruh dunia, termasuk media Indonesia yang turut mencoba DeepSeek untuk menemukan perbedaan dari Chat GPT. Mereka menguji kedua gen AI dengan beberapa prompt yang sama untuk membandingkan hasilnya.
Dilansir dari media tempo,co, performa DeepSeek setelah beberapa kali diberikan prompt mengalami penurunan kecepatan. Ia memerlukan waktu loading lebih lama untuk memproses kembali history dibandingkan Chat GPT.
Selain itu, tempo.co melakukan pengujian untuk menerjemahkan bahasa inggris menjadi bahasa indonesia. Berikut kalimat yang harus diterjemahkan oleh kedua gen AI: “Another new iPhone is coming soon, offering some of the same modern tech but at a much lower cost”
DeepSeek: “iPhone baru lainnya akan segera hadir, menawarkan beberapa teknologi modern yang sama tetapi dengan harga yang jauh lebih terjangkau.”
ChatGPT: “iPhone baru lainnya akan segera hadir, menawarkan beberapa teknologi modern yang sama namun dengan biaya yang jauh lebih rendah.”
Hasilnya tidak terpaut jauh berbeda, namun diksi yang digunakan DeepSeek lebih mudah dipahami.
Pengujian Editorial Artikel
Berbeda dengan yang dilakukan tempo.co, pengujian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa efektif kedua gen AI tersebut dapat menyunting paragraf.
Langkah pertama yang dilakukan adalah meminta keduanya menjadi seorang edukator untuk Gen Z dan Millennial. Prompt yang diberikan bukan merupakan kalimat terstruktur dan tidak sesuai EYD. Seperti ini:
“jadilah seorang edukator untuk gen z dan millennial. tolong bantu saya mengedit artikel yang akan saya berikan. edit diksi dan gaya bahasa agar sesuai dengan audiens saya yaitu gen z dan millennial. maukah anda membantu saya?”
“tolong edit paragraf berikut agar sesuai dengan gaya bahasa yang diminati gen z dan milenial:”
“Bulan Desember selalu punya makna spesial. Selain jadi momen refleksi atas apa yang sudah terjadi selama setahun, Desember juga jadi waktu untuk menatap masa depan dengan penuh harapan. Banyak dari kita mulai menyusun resolusi—termasuk untuk belajar—untuk mengembangkan diri di tahun yang baru.
Di era digital ini, belajar nggak lagi sekadar soal buku atau kelas konvensional. Dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), proses belajar jadi lebih cepat, efisien, dan menyenangkan. Bahkan, banyak AI yang menawarkan akses gratis, membuatnya semakin mudah dijangkau oleh semua orang”
Hasil Editorial Artikel
DeepSeek:
Chat GPT:
Pertanyaan lanjutan
Untuk membandingkan gaya bahasa yang digunakan masing-masing AI, kita akan menguji dengan pertanyaan lanjutan yang sama.
“jelaskan gaya bahasa dan diksi yang digunakan pada kedua paragraf tersebut”
DeepSeek:
Chat GPT:
Hasil edit artikel ChatGPT dan DeepSeek
“Berdasarkan hasil pengujian editorial paragraf yang dilakukan ChatGPT dan DeepSeek, keduanya memiliki perbedaan dalam penggunaan gaya bahasa.
ChatGPT cenderung menggunakan gaya bahasa friendly dan sesuai dengan audiens yang dituju. Sedangkan DeepSeek, cenderung lebih baku dan kurang sesuai dengan audiens yang ditargetkan.
Kendati demikian, DeepSeek lebih detail untuk menjelaskan gaya bahasa yang digunakan. DeepSeek menjelaskan perbedaan gaya bahasa paragraf sebelum dan setelah diedit. Hal ini membantu kita sebagai penulis agar lebih memahami nuansa dari gaya bahasa untuk audiens Gen Z dan Millennial.”
DeepSeek:
Chat GPT:
Jadi, kalian lebih suka conclusion dari DeepSeek atau Chat GPT?
Media sosial ramai membicarakan permasalahan gen z di dunia kerja. Banyak perusahaan menilai gen z sebagai generasi manja yang sulit bekerja. Mereka dinilai kurang motivasi kerja dan culture fit dengan perusahaan. Sehingga hal ini menyebabkan gen z banyak diberhentikan.
Dilansir dari CNBC Indonesia, berdasarkan laporan terbaru Intelligent.com, terdapat 6 dari 10 perusahaan memberhentikan karyawan gen z. Para perusahaan mengeluh karena banyak gen z tidak profesional dan tidak siap memasuki dunia kerja yang dinamis.
Selain itu, menurut Ina Liem, konsultan karir dan founder Jurusanku, mengatakan bahwa banyak stigma negatif dari perusahaan terhadap gen z. Meskipun tidak semua gen z memiliki perilaku seperti yang dikeluhkan, hal ini nampaknya menjadi cerminan bagi seluruh gen z.
Lain halnya dengan pendapat Anggawira, Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang diwawancarai CNBC Indonesia. Ia menyatakan bahwa tidak semua perusahaan menilai gen z tidak profesional, namun justru disebabkan karena ketidaksesuaian ekspektasi perusahaan dengan gen z tersebut.
Kendati demikian, gen z memiliki segudang potensi yang seharusnya dapat dioptimalisasi oleh perusahaan. Mereka terlahir sebagai generasi yang adaptif dengan teknologi, kreatif, dan mampu berpikir inovatif. Dengan cara pandang tersebut, gen z mampu menciptakan ide-ide baru asalkan perusahaan mampu mengoptimalisasinya.
Inilah 3 cara untuk mengupas dan mengoptimalisasi potensi besar gen z agar perusahaan
from pexels.com
Optimalisasi gen z di dunia kerja
1. Menyajikan teknologi yang relevan untuk gen z
Gen z merupakan generasi yang melek digital. Mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan kreatif di media sosial, analitik data, maupun transformasi digital. Bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan teknologi untuk pertumbuhan bisnisnya, ada baiknya mereka didukung menggunakan teknologi secara efisien.
Namun, jika teknologi yang digunakan sudah usang atau tidak user friendly, maka ini justru akan semakin mempersulit gen z. Mereka terbiasa menggunakan teknologi yang terintegrasi, terotomasi, serta tidak berulang.
Terlebih, AI saat ini sudah semakin advance dan memiliki banyak manfaat. Jika pekerjaan gen z tidak didukung dengan tools berteknologi modern yang relevan, maka perusahaan harus siap untuk tidak disukai oleh para karyawan gen z.
2. Memberikan kesempatan kolaborasi dan komunikasi
Gen z memiliki karakteristik yang mementingkan kolaborasi dan komunikasi terbuka. Mereka lebih menyukai pekerjaan dalam kelompok dengan komunikasi yang terbuka terhadap ide-ide kreatif.
Dilansir dari artikel workable.com, iklim kerja yang mengusung kolaborasi terbukti mampu mendorong potensi diri gen z lebih besar. Terutama jika didukung dengan agenda brainstorming untuk mengkritisi suatu issue, gen z akan cenderung lebih kreatif.
Kendati demikian, kolaborasi ini harus dirancang agar gen z mampu aktif dalam berdiskusi. Misalnya, memberikan kesempatan lebih banyak bagi mereka untuk present suatu materi. Hal ini akan mendorong gen z untuk bisa berkomunikasi dengan rekan kerja lebih efektif dan berani.
3. Fleksibilitas dalam berpikir kreatif gen z di dunia kerja
Fleksibilitas tidak melulu soal waktu, namun juga fleksibilitas cara berpikir. Gen z merupakan generasi yang sangat terekspos media sosial dan platform digital lainnya. Kemudahan akses terhadap berbagai macam platform membuat gen z leluasa untuk berekspresi melalui karya-karya yang diunggahnya.
Menurut laporan dari US Today, gen z setiap hari melakukan sesuatu yang kreatif sebesar 63% dari seluruh kegiatannya. Hal ini menjadikan mereka generasi yang lebih kreatif sebesar 6% dari generasi milenial yang hanya melakukan kegiatan kreatif sebesar 57%.
Hal ini juga selaras dengan hasil temuan survey marketingcharts.com yang menyatakan bahwa 51% gen z percaya bahwa mereka lebih kreatif dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka berpartisipasi secara offline maupun online untuk kegiatan kreatif seperti melukis, menulis, membuat grafis digital, edit foto, bahkan membuat meme.
Maka dari itu, iklim fleksibel dalam berpikir sangat diperlukan untuk mendorong potensi gen z dalam bekerja lebih baik. Jika fleksibilitas berpikir dibatasi oleh aturan-aturan rumit, dapat dipastikan mereka akan mengubur ide-ide yang mereka miliki
Itulah 3 cara untuk memaksimalkan potensi gen z di dunia kerja. By the way, saya pun seorang gen z dan saya cukup merasakan apa yang membuat potensi diri saya lebih baik.
Kalau kamu seorang gen z, apa saja cara-cara efektif agar kita bisa terus berkembang dan bertumbuh di dunia kreatif ini?
Tahun baru adalah waktu yang tepat untuk upgrade diri menjadi lebih baik. Di tahun 2025, membaca buku bisa menjadi pilihan keren untuk menambah wawasan sekaligus mewujudkan resolusi kamu.
Kamu bisa memilih dua jenis buku yang sesuai minatmu: buku fiksi dengan cerita seru yang penuh imajinasi atau buku nonfiksi yang sarat dengan ilmu dan informasi praktis untuk menghadapi tantangan sehari-hari.
Berikut ini adalah 5 rekomendasi buku populer yang wajib kamu baca untuk menemani langkah awalmu di tahun 2025. Siap eksplorasi?
Kalau kamu sering dengar soal buku yang viral banget, pasti kenal Atomic Habits. Buku ini mengajarkan gimana kebiasaan kecil bisa menciptakan perubahan besar dalam hidup kamu.
James Clear memberikan tips simpel, seperti merapikan tempat tidur setelah bangun atau membaca satu halaman buku setiap hari. Kebiasaan kecil ini, kalau dilakukan terus-menerus, bisa menciptakan dampak besar. Kamu nggak cuma dapat hasil, tapi juga membentuk proses dan identitas baru.
Misalnya, dari satu halaman per hari, lama-lama kamu jadi terbiasa membaca lebih banyak, dan akhirnya kamu dikenal sebagai orang yang suka baca. Cocok banget buat kamu yang mau bikin hidup lebih produktif tanpa stres!
Pernah merasa otakmu “nggak cukup pintar”? Limitless Mind bakal membantah mitos itu.
Jo Boaler, profesor dari Stanford University, menjelaskan bahwa otak kita punya kemampuan luar biasa untuk terus belajar dan berkembang. Setiap kali kamu mencoba hal baru atau belajar sesuatu, otakmu menciptakan koneksi baru yang bikin kamu semakin pintar.
Buku ini juga mengingatkan kalau kesalahan dan kegagalan justru membantu otak kita tumbuh. Jadi, jangan takut untuk mencoba hal baru, ya. Limitless Mind adalah bacaan wajib buat kamu yang ingin unlock potensi otakmu di 2025!
Punya resolusi finansial tahun ini? The Psychology of Money bakal jadi panduan kamu untuk lebih bijak soal uang.
Morgan Housel menjelaskan bagaimana emosi memengaruhi keputusan finansial kita. Rasa takut atau serakah sering bikin kita salah langkah, seperti menjual saham terlalu cepat atau menghabiskan uang tanpa pikir panjang.
Buku ini cocok banget buat pemula karena menjelaskan konsep keuangan dengan gaya yang mudah dimengerti. Kalau kamu mau mengelola uang dengan lebih cerdas, buku ini adalah jawabannya!
Tere Liye dikenal sebagai penulis puluhan novel populer di Indonesia sejak tahun 2005. Karya-karyanya sangat disukai oleh warga Indonesia terutama kalangan remaja. Pada tahun 2023, Tere Liye kembali menerbitkan novel berjudul Hello.
Novel Hello karya Tere Liye membawa kisah cinta beda kasta yang nggak cuma manis, tapi juga bikin kamu mikir.
Ceritanya tentang Hesty, anak majikan, yang jatuh cinta pada Tigor, anak supir pribadi. Dengan latar era 90-an, novel ini menghadirkan cerita yang menghangatkan hati sekaligus penuh kejutan.
Buat kamu yang suka kisah cinta sederhana tapi penuh makna, Hello wajib masuk daftar bacaanmu. Novel ini juga mengajarkan tentang cinta, pengorbanan, dan ketulusan.
Kalau kamu suka cerita imajinatif, Funiculi Funicula bakal jadi favoritmu.
Novel ini mengisahkan sebuah kafe di Tokyo yang bisa membawa pengunjungnya kembali ke masa lalu. Tapi, ada aturan unik: kamu cuma bisa kembali selama kopimu masih hangat. Begitu kopinya dingin, waktumu habis dan kamu akan menjadi hantu.
Ceritanya menyentuh hati dan penuh makna. Setiap karakter punya kisah yang bikin kamu mikir tentang waktu, penyesalan, dan kesempatan kedua. Cocok buat kamu yang suka cerita fantasi dengan sentuhan emosional.
Itulah 5 buku fiksi dan nonfiksi yang bisa kamu baca untuk memulai tahun 2025 dengan lebih seru dan produktif. Mulai dari buku yang ngajarin cara bikin hidup lebih baik, cerita cinta yang bikin baper, hingga kisah imajinatif yang seru.
Desember adalah bulan yang spesial—bulan penuh perayaan Natal dan momen introspeksi menjelang tahun baru. Bagi banyak orang, Desember identik dengan pohon Natal, sinterklas, dan boneka salju. Di negara-negara bersalju, musim dingin memberikan suasana magis yang sulit dilupakan.
Salah satu negara yang terkenal dengan keindahan musim dinginnya adalah Jepang. Salju, atau yuki dalam bahasa Jepang, mulai turun di wilayah utara seperti Hokkaido pada akhir Desember hingga pertengahan Maret. Selain menjadi pemandangan yang indah, salju juga memiliki makna mendalam: keindahan sekaligus kerapuhan.
Keindahannya telah menginspirasi banyak karya seni, seperti lukisan, puisi, fotografi, dan musik. Namun, salju juga menjadi simbol kerapuhan karena sifatnya yang sementara. Ketika musim dingin berakhir, salju mencair, mengingatkan kita bahwa semua hal indah dalam hidup tidak berlangsung selamanya.
Filosofi Salju dalam Serial Anime Jepang
Anime: My Teen Romantic Comedy SNAFU Source: alphacoders.com
Nama Yukino secara harfiah berarti “dari salju,” sementara Yukinoshita berarti “di bawah salju.” Nama ini mencerminkan filosofi salju—keindahan yang rapuh—yang terlihat jelas dalam kepribadian Yukino.
Berikut adalah bagaimana filosofi ini tercermin dalam karakter Yukino:
1. Keindahan Sikap Dingin yang Memesona
Yukino adalah gadis SMA dengan kecantikan luar biasa dan kecerdasan yang mengagumkan. Namun, sikapnya yang dingin dan kritis sering membuat orang lain merasa terintimidasi. Seperti salju yang indah namun dingin saat disentuh, Yukino menjaga jarak dengan orang di sekitarnya meskipun daya tariknya memukau.
2. Emosi yang Tersembunyi di Balik Kesempurnaan
Di balik sikapnya yang tegas, Yukino menyimpan banyak emosi yang tersembunyi. Ia memendam rasa sakit akibat trauma masa lalu dan rasa takut akan penolakan. Meskipun terlihat kuat dari luar, Yukino sebenarnya rapuh, seperti salju yang mudah mencair saat terkena panas.
3. Perubahan Sikap yang Menghangatkan
Sepanjang cerita, karakter Yukino berkembang secara signifikan. Hubungan dengan teman-temannya, Hachiman Hikigaya dan Yui Yuigahama, membantu Yukino membuka diri. Ia mulai belajar menerima bantuan dan merasakan kehangatan persahabatan. Sikapnya yang dulu dingin perlahan mencair, seperti musim dingin yang beralih menjadi musim semi.
Karakter Yukino Yukinoshita mengajarkan kita bahwa keindahan seringkali disertai dengan kerapuhan. Di balik kesempurnaan, mungkin ada luka dan kelemahan yang tersembunyi. Namun, kita tidak perlu terjebak dalam kelemahan itu. Sama seperti Yukino yang belajar menerima dukungan, kita juga perlu membuka diri dan berani menghadapi kelemahan untuk tumbuh menjadi lebih baik.
Desember adalah waktu yang tepat untuk merenung dan belajar dari filosofi salju. Keindahan Natal dan kehangatan tahun baru mengingatkan kita bahwa hidup adalah tentang menerima diri sendiri, termasuk kerapuhan, sambil terus bergerak maju.
Bulan Desember selalu punya makna spesial. Selain jadi momen refleksi atas apa yang sudah terjadi selama setahun, Desember juga jadi waktu untuk menatap masa depan dengan penuh harapan. Banyak dari kita mulai menyusun resolusi—termasuk untuk belajar—untuk mengembangkan diri di tahun yang baru.
Di era digital ini, belajar nggak lagi sekadar soal buku atau kelas konvensional. Dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI), proses belajar jadi lebih cepat, efisien, dan menyenangkan. Bahkan, banyak AI yang menawarkan akses gratis, membuatnya semakin mudah dijangkau oleh semua orang.
AI: Teman Belajar untuk Resolusi 2025
source: pexels.com
Menetapkan resolusi itu mudah, tapi memulai dan menjalankannya sering kali terasa sulit, apalagi jika resolusi tersebut berhubungan dengan belajar. Untuk mewujudkan resolusi belajar, kamu butuh konsistensi, struktur, dan strategi yang matang. Di sinilah AI hadir sebagai asisten yang bisa mendukung kamu mencapai tujuan dengan lebih efektif.
Berikut adalah 3 manfaat utama AI yang bisa membantu kamu merancang dan merealisasikan resolusi belajar di tahun 2025.
1. Membantu Merancang Resolusi yang Realistis
Sering kali, resolusi gagal karena terlalu ambisius atau tidak memiliki rencana yang jelas. AI bisa membantu kamu menyusun resolusi belajar yang lebih terarah dan sesuai kemampuan. Dengan AI, kamu bisa:
Menentukan tujuan belajar yang realistis berdasarkan waktu dan kapasitasmu.
Membuat jadwal belajar yang fleksibel tapi tetap terstruktur.
Melacak progres secara otomatis, sehingga kamu tahu seberapa jauh kamu sudah melangkah.
Dengan rencana yang lebih jelas, resolusi belajarmu nggak akan hanya jadi sekadar wacana.
2. Mengatasi Tantangan Belajar dengan Lebih Cerdas
Kehilangan fokus dan motivasi adalah tantangan terbesar dalam belajar. AI bisa membantu kamu tetap konsisten dan terarah dengan:
Pengingat otomatis yang bikin kamu nggak lupa jadwal belajar.
Analisis pola produktivitas untuk merekomendasikan waktu belajar terbaik.
Sumber belajar yang relevan sesuai dengan kebutuhanmu.
Dengan dukungan ini, kamu bisa tetap berada di jalur yang benar dan belajar jadi lebih efektif.
3. Membuat Proses Belajar Jadi Lebih Menarik
Belajar itu nggak harus membosankan! Dengan AI, kamu bisa menikmati proses belajar yang lebih seru dan interaktif, seperti:
Chatbot AI yang bisa menjelaskan konsep sulit dengan cara sederhana.
Ringkasan otomatis dari artikel atau buku panjang, sehingga kamu lebih hemat waktu.
Kuis interaktif untuk menguji pemahaman dengan cara yang menyenangkan.
Belajar jadi terasa lebih ringan dan kamu lebih termotivasi untuk terus melangkah.
Desember adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan perjalanan selama setahun sekaligus merancang masa depan yang lebih baik. Dengan bantuan AI, kamu bisa mewujudkan resolusi belajar dengan cara yang lebih cerdas dan efisien.
Jadi, kalau kamu punya resolusi belajar untuk tahun 2025, jangan biarkan rencana itu terhenti di angan-angan. Manfaatkan teknologi AI sebagai partner belajar yang akan membantumu terus maju.
Apa rencanamu untuk tahun depan? Sudah siap menjadikan AI sebagai sahabat belajar? Mulai sekarang, dan jadikan 2025 sebagai tahun pembelajaran terbaikmu! 🎯🚀
Bagi sebagian orang, repetisi sering dianggap membosankan. Menurut data dari Clockify.me, sekitar 60% waktu seseorang dihabiskan untuk melakukan aktivitas yang repetitif. Rata-rata, seseorang menghabiskan 4 jam 30 menit per minggu untuk melakukan pekerjaan yang sama berulang-ulang.
Contohnya sederhana, membereskan tempat tidur setelah bangun, menggosok gigi, atau membuat to-do list setiap pagi. Bahkan, kegiatan lainnya yang dilakukan dengan cara dan kemampuan yang sama setiap hari pun masuk kategori repetisi.
Nggak heran kalau banyak yang merasa bosan. Tapi, repetisi itu nggak selalu buruk. Di situasi tertentu, justru hal ini punya manfaat besar, terutama kalau kamu lagi belajar sesuatu yang baru.
Skill baru, pengetahuan baru, bahkan kebiasaan baru nggak mungkin tercipta tanpa pengulangan. Yuk, intip 5 manfaat repetisi yang bisa bantu kamu makin jago belajar!
Manfaat Repetisi dalam Belajar Hal Baru
source: pexels.com
1. Bikin Otak Lebih Mudah Mengingat
Repetisi itu ibarat shortcut untuk daya ingat. Dengan terus mengulang informasi, otak kita membangun koneksi saraf yang makin kuat. Makanya, semakin sering kamu mengulang sesuatu, semakin mudah hal itu melekat di ingatan.
Pernah dengar ungkapan “repetition is the mother of retention”? Ini berarti semakin sering bertemu informasi yang sama, otak kita makin mudah mengingatnya.
2. Tingkatkan Kemampuan Sampai Level Jago
Pengen mahir di suatu bidang? Repetisi adalah kuncinya. Latihan berulang-ulang nggak cuma bikin pemahaman makin kuat, tapi juga jadi pondasi buat belajar hal-hal baru. Dengan terus mencoba, makin dekat dengan level “pro”.
3. Bikin Proses Jadi Lancar, Tanpa Beban
Kalau kita lagi belajar bahasa, repetisi adalah cara terbaik untuk memperlancar belajar dan percaya diri. Contohnya, dengan terus latihan bicara atau menulis, kita jadi makin terbiasa, bahkan nggak perlu berpikir keras ketika mempraktikkannya.
Lama-lama, kesalahan yang dilakukan bakal berkurang, dan proses belajar terasa lebih natural. Nggak ribet, kan?
4. Bangun Kebiasaan Belajar yang Konsisten
Repetisi juga bantu menciptakan rutinitas belajar yang teratur. Misalnya, kita selalu belajar di waktu yang sama setiap hari. Kebiasaan ini bikin kamu lebih disiplin dan fokus.
Seiring waktu, pola belajar yang konsisten ini jadi fondasi buat menciptakan motivasi dan keterlibatan yang lebih besar dalam proses belajarmu.
5. Bikin Lebih Percaya Diri
Melihat progres dari hasil repetisi itu rasanya memuaskan banget. Tiap langkah kecil yang kamu capai adalah bukti nyata dari usahamu.
Rasa puas ini jadi motivasi ekstra buat terus belajar. Bonusnya? Kamu melatih pola pikir yang lebih fokus ke pencapaian jangka panjang, yang bikin kepercayaan dirimu makin meningkat.
Repetisi memang kadang bikin bosan, tapi hasilnya luar biasa. Dengan pengulangan yang konsisten, kamu bisa lebih mudah mengingat, menguasai keterampilan, dan menciptakan kebiasaan positif. Plus, progres yang kamu lihat bakal bikin kamu lebih percaya diri dan semangat buat terus berkembang.
Jadi, jangan ragu buat terus mengulang! Karena di setiap repetisi, ada peluang buat jadi versi terbaik dari dirimu.
Repetisi dapat diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan secara berulang dengan cara yang sama. Tanpa disadari, banyak dari kita telah melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah rutinitas seperti bangun pagi, menggosok gigi, sarapan, lalu melanjutkan aktivitas harian.
Kegiatan repetisi cenderung mendorong kita untuk melakukan berbagai hal dengan pola yang serupa. Misalnya, menggosok gigi dilakukan dengan gerakan dari atas ke bawah, berkendara melibatkan kendali setir dan pedal gas, serta aktivitas lain yang dilakukan dengan cara yang tetap.
Repetisi membantu menciptakan kebiasaan, tetapi sering kali tidak memunculkan inovasi atau perubahan signifikan.
Berbeda dengan repetisi, iterasi mengacu pada pengulangan proses yang berfokus pada perbaikan dan inovasi. Iterasi melibatkan evaluasi terhadap langkah sebelumnya untuk menemukan cara yang lebih baik, efisien, atau efektif.
Iterasi menuntut kita untuk mengembangkan pola pikir reflektif dan adaptif. Alih-alih hanya mengulangi pola yang sama, iterasi bertujuan memperbaiki proses pengulangan agar hasil yang diperoleh menjadi lebih optimal.
Repetisi berfokus pada konsistensi dalam melakukan tugas yang sama secara berulang. Cara ini sangat membantu dalam membangun keterampilan dasar pada suatu aktivitas. Sebagai contoh, saat seseorang belajar bermain drum untuk pertama kali, ia perlu mengulang gerakan memukul drum dengan stik secara terus-menerus.
Metode ini memiliki peran penting dalam melatih keterampilan hingga mencapai tingkat kemahiran. Selain itu, repetisi juga berkontribusi pada pembentukan neuron baru di otak. Ketika kita melakukan aktivitas baru dan mengulangi cara-cara yang sebelumnya belum pernah dicoba, otak merespons dengan menciptakan koneksi neuron baru yang memperkuat pembelajaran.
Dalam konteks belajar, repetisi sangat bermanfaat untuk membangun konsistensi. Contohnya, belajar setiap pukul 7 pagi dan mengulanginya lagi pada pukul 7 malam menciptakan rutinitas yang mendukung disiplin dan keberlanjutan. Konsistensi ini adalah hasil positif dari proses pengulangan yang dilakukan secara terus-menerus.
Namun, meskipun memiliki banyak manfaat, repetisi juga seperti pisau bermata dua. Terlalu banyak melakukan repetisi dengan cara yang sama dapat menyebabkan stagnasi dalam proses perkembangan.
Stagnasi ini terjadi karena pengulangan yang terus dilakukan tanpa perubahan metode atau hasil. Akibatnya, kemajuan menjadi terhambat karena kurangnya tantangan atau rangsangan baru. Hal ini pada akhirnya dapat memperlambat pembentukan dan pertumbuhan neuron di otak, yang berdampak negatif pada kemampuan untuk terus belajar dan berkembang.
created by bing image creator prompt: Animation of a woman studying in a very cozy coffee shop.
Berbeda dengan repetisi yang mengulang hal yang sama tanpa perubahan, iterasi adalah proses pengulangan yang bertujuan untuk membuat sesuatu lebih baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), iterasi berarti perulangan. Namun, iterasi tidak hanya mengulang, tetapi juga memperbaiki proses di setiap siklusnya.
Contohnya, seorang siswa yang belajar setiap pukul 7 pagi dengan metode yang sama, yaitu guru menjelaskan materi setiap hari, lama-lama akan merasa bosan. Dengan iterasi, cara belajar ini bisa diubah. Siswa bisa memulai dengan mempresentasikan materi terlebih dahulu, kemudian berdiskusi dengan teman-temannya, dan di akhir sesi guru memberikan penjelasan tambahan. Metode ini membuat pembelajaran lebih menarik dan interaktif.
Iterasi juga digunakan di dunia bisnis, seperti yang dilakukan Elon Musk. Musk menerapkan first principle thinking untuk memperbaiki proses produksi baterai. Alih-alih mengikuti cara lama, ia memecah baterai menjadi komponen dasar dan menemukan cara lebih murah untuk memproduksinya tanpa mengurangi kualitas.
Iterasi membantu kita memperbaiki kesalahan, menyederhanakan proses, dan bekerja lebih efisien. Dengan cara ini, kita bisa menghasilkan solusi yang lebih baik dan inovatif, baik dalam belajar, bekerja, maupun kehidupan sehari-hari.
Iterasi Lebih Penting Dari Repetisi?
Repetisi dan iterasi keduanya sangat penting dalam setiap proses. Repetisi membantu membangun keterampilan dasar yang kuat, sementara iterasi diperlukan untuk mengembangkan keterampilan tersebut agar menjadi lebih baik.
Dalam proses pembelajaran, repetisi sangat diperlukan untuk menguasai hal-hal baru, mulai dari dasar hingga tingkat mahir. Dengan repetisi, kita memperkuat pemahaman dan keterampilan dasar. Setelah itu, iterasi memungkinkan kita untuk menciptakan solusi baru, mengasah keterampilan lebih lanjut, dan menyederhanakan proses agar lebih efektif.
Namun, dalam jangka panjang, iterasi menjadi lebih penting daripada repetisi. Meskipun repetisi tetap dibutuhkan untuk memperkuat dasar-dasar, iterasi diperlukan untuk mendorong kemajuan dan inovasi. Oleh karena itu, penting untuk menemukan keseimbangan antara repetisi dan iterasi.
Elon Musk dikenal sebagai seorang entrepreneur sukses melalui berbagai produk inovatif yang diciptakannya. Keberhasilan Musk tercermin dari kesuksesan perusahaan otomotif Tesla dan perusahaan antariksa SpaceX. Selain itu, Musk juga merupakan investor utama yang membeli platform Twitter pada Oktober 2022.
Kesuksesannya bukanlah hasil dari keberuntungan semata, melainkan hasil dari pendekatan berpikir yang dikenal sebagai The First Principle Thinking. Konsep berpikir ini terbukti mampu merevolusi industri otomotif dan antariksa.
The First Principle Thinking
source: pexels.com
The First Principle Thinking merupakan metode berpikir yang memecah masalah menjadi elemen-elemen paling dasar yang tidak dapat dikurangi lagi. Secara umum, konsep ini menuntut kita untuk berpikir dari dasar dan menganalisis segala sesuatu mulai dari nol.
Pendekatan ini membantu kita menemukan akar masalah dengan cara memecahnya hingga elemen terkecil. Lalu terus bertanya “mengapa” sampai kita menemukan inti permasalahan.
Contoh penerapan The First Principle Thinking oleh Elon Musk adalah dalam proses produksi baterai mobil listrik di Tesla. Musk menyadari bahwa biaya produksi baterai sangat mahal, yang berdampak pada tingginya harga jual mobil.
Dengan pendekatan First Principle Thinking, Musk memecah baterai menjadi komponen-komponen mentahnya dan menganalisis fungsi dasar baterai. Ia menemukan bahwa fungsi utama baterai adalah menyimpan daya listrik.
Setelah memahami elemen dasarnya, ia bertanya, “Bagaimana cara membuat produksi baterai lebih murah dan efisien?.” Dari pertanyaan tersebut, ia berhasil menemukan solusi untuk melakukan reengineering sehingga proses pembuatan baterai menjadi jauh lebih efisien.
Pendekatan serupa juga ia terapkan di SpaceX. Musk merancang roket dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan antariksa lainnya.
Starlink
source: CNBC Indonesia
Selain baterai dan roket, produk inovatif lainnya yang populer adalah Starlink, yang dikembangkan oleh SpaceX untuk mengatasi masalah ketimpangan akses internet di berbagai negara.
Ketimpangan ini disebabkan oleh distribusi jaringan internet yang menggunakan kabel dan menara pemancar yang tidak merata, terutama di daerah terpencil. Starlink hadir dengan solusi yang lebih inovatif, yaitu menggunakan satelit yang mengorbit dekat dengan bumi, sehingga tidak membutuhkan kabel atau menara pemancar untuk mendistribusikan internet.
Dengan teknologi ini, Starlink mampu menyediakan internet cepat di mana saja dan kapan saja. Dengan menerapkan First Principle Thinking dalam menemukan cara baru untuk menghadirkan internet tanpa infrastruktur tradisional.
Benefits
Manfaat penerapan First Principle Thinking sangat signifikan. Dengan memulai dari dasar, kita dapat menciptakan solusi yang lebih inovatif dan original. Metode ini tidak hanya memunculkan ide-ide baru, tetapi juga mempercepat kemajuan teknologi.
Dalam dunia bisnis dan teknologi yang kompetitif, berpikir berdasarkan prinsip pertama memungkinkan kita keluar dari batasan yang ada dan membuka peluang baru yang sebelumnya dianggap mustahil.
Secara keseluruhan, First Principle Thinking memberikan dampak yang komprehensif dalam cara kita memandang dan memecahkan masalah.
Dengan menerapkan metode ini, kita bisa mencapai hasil yang lebih efisien, efektif, dan tentunya inovatif. Seperti yang telah dibuktikan oleh Elon Musk, kesuksesan besar bisa dimulai dari cara berpikir yang sangat mendasar.
Jadi, kalau kamu memiliki sebuah cita-cita untuk merevolusi suatu industri, apa The First Principle Thinking yang kamu pikirkan untuk menciptakan produk inovatif?
Enam bulan berlalu sejak aku meninggalkan tempat yang dulu aku berpijak. Kota ini, dengan segala hiruk-pikuknya, memaksaku untuk selalu bergerak. Setiap pagi, aku terbangun di tengah kebisingan yang tak pernah memberi ruang untuk bernafas. Setiap menit terasa seperti tali yang mengikat pundakku, menarikku tanpa henti dari satu kesibukan ke kesibukan lainnya.
Hari ini, tepat enam bulan sejak aku beranjak darimu. Enam bulan sejak aku meninggalkan semua kenangan yang pernah kita buat dengan secangkir kopi. Di tengah rutinitas yang melelahkan, ada sesuatu yang berbeda hari ini. Aku merasakan panggilan untuk kembali, untuk berdialog lagi denganmu, meski hanya sebentar.
Aku pun kembali. Bertemu denganmu lagi seakan membangkitkan semua perasaan yang sempat hilang. Dalam sepi sore yang ditemani nada biola dari kejauhan, aku menyampaikan semua isi kepalaku yang selama ini tersimpan rapat. Kau mendengarkan dengan tenang, dan seolah-olah bintang di matamu memberi isyarat bahwa kau juga menantikan hari ini.
Wajahmu tak banyak berubah. Senyummu masih sama, ramah dan menenangkan. Enam bulan tak membuat kita benar-benar berjarak, meski waktu tak lagi mengizinkan kita bersama seperti dulu. Hanya enam jam yang bisa kita habiskan bersama hari ini—dan itu pun terasa singkat. Waktu terus berlalu, dan aku tahu, aku harus segera kembali pergi.
Tepat pukul enam sore, aku berlalu. Dengan berat hati, aku meninggalkanmu di tempat yang penuh kenangan itu, bersama secangkir kopi favoritmu yang tak pernah luput dari kebiasaanmu. Aku pergi ke arah barat, sementara kau ke timur, ke jalan yang berbeda. Inilah bagian yang paling aku benci: perpisahan yang tak terhindarkan.
Meskipun pertemuan kita hanya berlangsung enam jam, dan sudah enam bulan sejak terakhir kali kita bersama, aku tetap merasa beruntung. Setidaknya kau menyediakan waktu untukku, waktu yang begitu berharga di tengah semua kesibukan.
Namun, ini bukan akhir. Aku tahu, suatu saat nanti aku akan kembali. Bukan hanya untuk enam jam, tapi untuk waktu yang lebih lama. Intuisiku mengatakan bahwa aku akan kembali ke tempat di mana kau berdiri, ke tempat di mana kau terus meniti karir dan menjalani hidupmu.
Untuk saat ini, aku harus bersabar, menanti saat itu tiba. Dan sampai waktu itu datang, kenangan ini akan terus hidup dalam ingatanku, seperti lukisan perjalanan yang terus menemani langkah-langkahku di depan.