YudindaGilangPramudya

AI Bukan Lagi Fiksi, Ini Cara Gen Z dan Milenial Memaksimalkan Potensi di Tahun 2026

Jika beberapa tahun lalu Kecerdasan Buatan (AI) terasa seperti teknologi fiksi ilmiah. Kini AI telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia.

Namun, di balik angka fantastis ini, muncul peluang dan tantangan besar bagi Gen Z dan Milenial kelompok usia yang paling banyak berinteraksi dengan teknologi ini.

AI: Lebih dari Sekadar Gaya Hidup

Penggunaan AI di Indonesia jauh melampaui tren sesaat di media sosial. Survei mencatat, AI kini menjadi andalan masyarakat untuk berbagai keperluan:

  1. Mencari Informasi dan Belanja: AI membantu menyaring informasi dan memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi saat belanja online.
  2. Produktivitas Pelajar: Separuh pelajar di Indonesia menggunakan AI untuk tugas akademik. Mereka melihatnya sebagai alat yang efisien untuk menghasilkan ide dan menghemat waktu.
  3. Pengambilan Keputusan: Sebanyak 50 persen pengguna mengaku mengandalkan chatbot AI untuk membuat keputusan cepat dalam hidup mereka.

Antusiasme tinggi ini menunjukkan bahwa AI telah bertransformasi menjadi co-pilot digital yang membantu peningkatan efisiensi personal.

Pintu Masuk Revolusi Digital: Tantangan Talenta Lokal

Meskipun Indonesia sangat jago dalam mengadopsi dan menggunakan AI (konsumen), fakta mengejutkan datang dari sisi produksi.

Indonesia tertinggal jauh dalam pengembangan AI. Hanya berada di peringkat ke-30 secara global untuk jumlah pengembang yang memanfaatkan Application Programming Interface (API) AI.

Paradoks ini mencerminkan sebuah panggilan besar bagi generasi muda. Pemerintah dan konsultan memproyeksikan kebutuhan talenta digital mencapai 12 juta orang pada 2030.

Dengan perkiraan kebutuhan 453.000 hingga 600.000 talenta AI per tahun hingga 2030, ini adalah peluang emas bagi Gen Z dan Milenial untuk mengisi kesenjangan tersebut. Pasar AI Indonesia sendiri diprediksi akan meledak, mencapai USD 10,88 miliar pada 2030.

2026: Saatnya Menjadi Produsen, Bukan Hanya Konsumen

Dengan investasi besar-besaran dari raksasa teknologi global (seperti janji USD 1,7 miliar dari Microsoft untuk infrastruktur cloud dan program pelatihan, serta pembangunan AI Center NVIDIA di Surakarta), ekosistem AI di Indonesia siap untuk take off.

Inilah saatnya bagi pengguna AI di Indonesia untuk bertransformasi dari sekadar pengguna menjadi pencipta. Berikut adalah rekomendasi praktis untuk memanfaatkan momentum AI di tahun 2026:

1. Kuasai Prompt Engineering dan Customization

AI generatif adalah alat. Keahlian masa depan adalah kemampuan mengajukan pertanyaan yang tepat (prompt) dan memanipulasi keluaran AI.

Pelajari cara menyesuaikan model AI (fine-tuning) untuk tugas-tugas spesifik. Tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk keperluan profesional (misalnya, membuat draf laporan bisnis atau desain grafis).

2. Fokus pada Keterampilan Hybrid (AI + Spesialisasi)

Jangan hanya belajar coding AI. Gabungkan pemahaman AI dengan bidang spesialisasi Anda (misalnya: AI + Kesehatan, AI + Hukum, AI + Konten Kreatif).

Ini akan menjadikan Anda talenta yang sangat dicari. Ikuti program-program pelatihan seperti AI Talent Factory yang diluncurkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital.

3. Manfaatkan Ekosistem Terbuka

Gunakan Large Language Model (LLM) sumber terbuka lokal. Seperti Sahabat-AI yang diluncurkan NVIDIA, untuk mengembangkan aplikasi AI dalam Bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Ini adalah jalur tercepat untuk menjadi pengembang dan produsen AI, alih-alih hanya mengandalkan layanan asing.

4. Waspada Privasi Data

Seiring masifnya penggunaan AI, isu keamanan data menjadi sangat krusial. Indonesia menghadapi tantangan dalam perlindungan data pribadi. Selalu tingkatkan literasi digital Anda dan pahami bagaimana data Anda digunakan oleh layanan AI.

Dukung inisiatif seperti pembentukan Lembaga Pengawas Perlindungan Data Pribadi (PDP) untuk membangun tata kelola AI yang etis dan aman.

Indonesia memiliki kondisi demografis yang kuat—mayoritas penduduknya berusia di bawah 35 tahun dan pengguna smartphone mencapai 180 juta.

Dengan mengarahkan antusiasme tinggi ke pengembangan talenta, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci dalam ekonomi AI global di masa depan.

AI Bukan Lagi Fiksi, Ini Cara Gen Z dan Milenial Memaksimalkan Potensi di Tahun 2026 Read More »

Indonesia Peringkat Kedua Adopsi AI di Asia Pasifik! Ada 2 Tantangan di Masa Depan!

Data ini diungkapkan oleh Google pada 4 Desember 2025 yang menyoroti antusiasme masyarakat Indonesia terhadap teknologi AI, utamanya kaum Gen Z dan Millennials.

Fakta Adopsi yang Mengejutkan

Menurut Feliciana Wienathan, Communication Manager Google Indonesia, 18 juta gambar dihasilkan hanya dari satu fitur saja. Jumlah ini diperkuat dengan laporan dari e-Conomy SEA 2025, yang mencatat 80 persen pengguna di Indonesia menunjukkan interaksi harian dan tingkat kepercayaan yang sangat tinggi terhadap AI

Pola penggunaan AI di Indonesia sangat beragam, mulai dari pencarian informasi (paling umum), belanja online, pengeditan foto/video, hingga pembuatan keputusan. Di sektor pendidikan, hampir separuh pelajar sudah mengandalkan AI untuk tugas akademik guna meningkatkan efisiensi waktu dan menghasilkan ide.

Sebuah Paradoks: Pengguna Tinggi, Pengembang Rendah

Di balik tingginya adopsi ini, Indonesia menghadapi tantangan rendahnya pengembangan AI dibandingkan penggunanya. Chief Economist OpenAI, Aaron “Ronnie” Chatterji, menyebutkan bahwa Indonesia berada di tiga besar negara pengguna AI terbesar secara global. Namun, menempati peringkat ke-30 dalam pengembangan menggunakan API AI.

Kesenjangan ini diakui oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, yang mengungkapkan Indonesia butuh 12 juta talenta digital pada 2030. Konsultan Keaney memperkirakan Indonesia butuh 453.000 hingga 600.000 talenta AI pertahun hingga 2030.

Hambatan Utama: Pendanaan dan Infrastruktur

Dua hambatan utama lambatnya pengenmbangan AI di Indonesia adalah pendanaan yang kurang dan infrastruktur yang belum siap. Pendanaan yang sampai saat ini masuk di seluruh sektor digital hanya mencapai USD 323 juta. Nominal ini sangat rendah dibandingkan AS yang mencapai USD 97 miliar hanya dari startup AI.

Selain itu, pengembangan startup AI lokal masih kesulitan dalam akses infrastruktur teknis GPU, cloud, dan perihal akses data. Tingkat kegagalan startup AI mencapai 75% di Indonesia.

Kendati demikian, pemerintah Indonesia meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) sejak 2020 dan AI Center of Excellence (AICOE) pada Juli 2025. Keduanya diharapkan menjadi pusat kolaborasi dengan raksasa teknologi seperti NVIDIA, Microsoft, dan lainnya.

Indonesia Peringkat Kedua Adopsi AI di Asia Pasifik! Ada 2 Tantangan di Masa Depan! Read More »

AI Agent: Asisten Digital yang Bisa Bekerja Sendiri, Bukan Sekadar Menjawab Pertanyaan

Tahun 2025, teknologi ini sedang menjadi perbincangan hangat karena semakin banyak perusahaan mengembangkan asisten digital yang bisa mengambil keputusan dan bertindak sendiri.

Perbedaannya dengan chatbot biasa cukup sederhana. Chatbot hanya bisa mengobrol, sementara AI agent bisa “bergerak” dan melakukan aksi nyata.

Bayangkan Anda menyuruh asisten virtual untuk mencari tiket pesawat termurah ke Bali minggu depan. Lalu dia langsung mengecek beberapa situs pemesanan, membandingkan harga, bahkan langsung checkout menggunakan data pembayaran Anda (kalau Anda memberikan izin, tentunya).

Tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi benar-benar menyelesaikan tugasnya sampai tuntas. Itulah yang membuat AI agent jauh lebih powerful.

Teknologi ini bekerja dengan menggabungkan beberapa kemampuan sekaligus. AI agent memahami perintah bahasa natural seperti kita berbicara sehari-hari, merencanakan langkah-langkah yang perlu dilakukan. Lalu eksekusi menggunakan tools atau aplikasi yang relevan.

Misalnya, kalau Anda berkata “tolong siapkan laporan penjualan bulan ini dan kirim ke tim”, AI agent bisa mengakses database, membuat grafik, menulis ringkasan, lalu mengirim email, semua otomatis. Mereka juga bisa belajar dari kesalahan dan semakin pintar seiring waktu.

Contoh Nyata AI Agent yang Sudah Ada Sekarang

Ilustrasi customer service. sumber: pexels.com

Pertama, ada agent untuk coding seperti Devin dan GitHub Copilot Workspace. Mereka tidak hanya memberikan saran kode, tetapi bisa membuat aplikasi lengkap dari awal sampai akhir.

Anda tinggal menjelaskan mau membuat aplikasi apa, lalu AI-nya yang melakukan coding, testing, bahkan deploy ke server. Programmer jadi bisa fokus ke hal-hal yang lebih strategis

Kedua, customer service automation yang sudah mulai dipakai perusahaan e-commerce dan perbankan di Indonesia. AI agent ini bisa menangani keluhan pelanggan, memproses refund, sampai memperbarui status pesanan tanpa perlu melibatkan manusia.

Bedanya dengan chatbot lama, mereka bisa mengakses sistem internal perusahaan dan benar-benar melakukan transaksi, bukan hanya menjawab “mohon tunggu, akan kami proses”.

Ketiga, personal AI assistant untuk produktivitas seperti yang sedang dikembangkan Google, Microsoft, dan startup lokal. Bayangkan asisten yang bisa membaca semua email Anda, memfilter mana yang penting, menyusun balasan, mengatur meeting, bahkan mengingatkan Anda untuk follow-up klien yang belum dibalas.

Beberapa startup di Jakarta juga sudah mulai membuat AI agent khusus untuk membantu UMKM mengelola inventori dan customer relationship management.

Tantangan AI Agent yang Masih Ada

Tentu saja tidak semua berjalan mulus. Masalah privasi menjadi perhatian besar karena AI agent ini membutuhkan akses ke data pribadi dan sistem kita agar bisa bekerja efektif.

Bayangkan kalau AI-nya salah mengambil keputusan, misalnya mengirim email penting ke orang yang salah atau checkout produk yang salah.

Makanya sekarang banyak diskusi tentang bagaimana membuat “safety guard rails” supaya AI agent tidak kebablasan.

Biaya juga masih menjadi hambatan. Teknologi ini masih mahal untuk dijalankan karena membutuhkan komputasi yang powerful.

Belum lagi soal regulasi pemerintah di berbagai negara masih menyusun aturan tentang bagaimana AI boleh dan tidak boleh beroperasi. Terutama kalau sudah menyangkut transaksi keuangan atau data sensitif.

Yang jelas, AI agent akan mengubah cara kita bekerja dalam beberapa tahun ke depan. Pekerjaan-pekerjaan repetitif dan administratif kemungkinan besar akan diambil alih, tetapi di sisi lain akan muncul pekerjaan baru seperti “AI agent trainer” atau “automation specialist”.

Kunci sukses di era ini adalah adaptasi, belajar bagaimana berkolaborasi dengan AI, bukan bersaing dengannya. Teknologi ini dibuat untuk membantu kita menjadi lebih produktif, bukan menggantikan peran manusia sepenuhnya.

Terimakasih sudah membaca

AI Agent: Asisten Digital yang Bisa Bekerja Sendiri, Bukan Sekadar Menjawab Pertanyaan Read More »

First Principle Thinking x Tesla Way: Cara Hidup di Era AI

First Principle Thinking dan Tesla Way

First Principle Thinking adalah metode pemecahan masalah dengan membongkar persoalan hingga ke inti paling dasar yang tidak bisa dipecah lagi.

Pendekatan ini layaknya berpikir seperti ilmuwan: mempertanyakan asumsi lama, menentang kebiasaan konvensional, dan membangun ulang solusi dari nol. Elon Musk mempraktikkan cara ini di Tesla dan SpaceX untuk menciptakan terobosan teknologi.

Sementara itu, Tesla Way adalah filosofi kerja yang berfokus pada inovasi radikal, kecepatan eksekusi, dan iterasi cepat berdasarkan umpan balik.

Budaya ini menganggap kegagalan sebagai bagian dari proses belajar, mendorong eksperimen berani, dan menempatkan visi jangka panjang di atas kenyamanan jangka pendek.

Kombinasi yang Relevan di 2025

Pengamat menilai kombinasi First Principle Thinking dan Tesla Way sangat relevan untuk strategi belajar di 2025. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran menjadi lebih kritis, adaptif, dan kreatif, sekaligus membentuk mental berani gagal.

Salah satu prinsip kuncinya adalah “Fail Fast, Learn Faster” yang berasal dari Tesla Way. Filosofi ini mendorong eksperimen cepat, belajar dari kesalahan sejak dini, lalu memperbaiki strategi sebelum kerugian membesar. Alih-alih menghindari kegagalan, prinsip ini justru memanfaatkannya sebagai sumber data untuk mempercepat inovasi.

Berbeda dari metode tradisional yang fokus menjaga standar dan memperbaiki proses lama, kombinasi ini mengajak pembelajar menciptakan cara dan solusi baru yang lebih relevan dengan tantangan masa depan.

Mengapa Efektif di Era AI?

Di tengah dinamika era AI, kecepatan belajar dan kemampuan beradaptasi menjadi krusial. Membongkar masalah hingga ke akar dengan First Principle Thinking, lalu mengujinya secara cepat dan berulang ala Tesla Way, memungkinkan pembelajar menguasai keterampilan baru lebih efektif.

Pendekatan ini diyakini mampu menggeser paradigma lama. Bukan sekadar menyempurnakan sistem yang ada, tetapi benar-benar menciptakan terobosan dari nol. Bagi siapa pun yang ingin berkembang di era AI, perpaduan First Principle Thinking dan Tesla Way bukan hanya mempercepat eksperimen, tetapi juga memperkaya pengetahuan dari kegagalan.

First Principle Thinking x Tesla Way: Cara Hidup di Era AI Read More »

Sekitar 47% netizen YouTube Terkesan dengan Google Veo 3!

Sejak kehadirannya, Google Veo 3 mulai ramai diperbincangkan di kalangan pengguna YouTube.Banyak kreator konten mulai mencoba sekaligus membagikan tutorial pemanfaatan Veo 3 sebagai alat bantu dalam produksi video. Respons yang muncul pun beragam, mulai dari kekaguman hingga skeptisisme terhadap kemampuannya.

Sebagai bagian dari pengamatan tren ini, kami melakukan pengumpulan data komentar dari lima video YouTube yang dianggap cukup representatif dalam mengulas Veo 3.

Pengambilan data dilakukan pada 15 Juni 2025 pukul 16.00 WIB dengan metode scraping menggunakan YouTube API. Hasilnya, kami memperoleh lebih dari 1.600 komentar yang kemudian diolah untuk menganalisis sentimen pengguna terhadap Google Veo 3.

Sentimen Warganet YouTube

Dari hasil analisis data, sebanyak 47% warganet menunjukkan kesan positif terhadap Veo 3. Mereka menilai kemampuan model ini sangat mengesankan dan berpotensi menjadi game changer dalam industri kreatif.

Hanya dengan input berupa prompt teks, pengguna bisa menghasilkan video berdurasi 8 detik dengan kualitas 4K, sebuah kemajuan signifikan dalam teknologi generatif video.

Dalam salah satu kasus, Veo 3 tetap menampilkan subtitle dalam video, padahal prompt secara eksplisit meminta tanpa subtitle.

Di sisi lain, 26,6% warganet mengambil posisi netral atau konservatif. Kelompok ini belum sepenuhnya percaya bahwa Veo 3 mampu menggantikan kreativitas manusia, terutama dalam menghasilkan video yang lebih kompleks dan bernuansa emosional.

Meski menuai pujian dari hampir separuh pengguna, Google Veo 3 masih menghadapi tantangan dalam menyempurnakan kemampuannya.

Di tengah antusiasme dan kehati-hatian yang muncul, satu hal yang pasti: Veo 3 telah memantik diskusi serius mengenai masa depan industri konten digital dan sejauh mana teknologi dapat berperan dalam menggantikan kreativitas manusia.

Apakah Veo 3 akan menjadi tonggak revolusi kreatif, atau hanya sekadar tren sesaat?

Waktu yang akan menjawabnya.

Video references:

Sekitar 47% netizen YouTube Terkesan dengan Google Veo 3! Read More »

Kemampuan Google Veo 3 yang Mengesankan!

Pada 20 Mei 2025, Google secara resmi meluncurkan model AI terbaru yaitu Veo 3. Model ini mampu menghasilkan video berkualitas 4K berdurasi 8 detik. Video dapat diunduh dengan format GIF atau rasio 16:9 dan 9:16.

Video yang dihasilkan berasal dari prompt atau teks yang kita input seperti pada Chat GPT. Uniknya, kita dapat mengatur berbagai hal seperti gerakan kamera, sudut pandang, lensa yang digunakan, hingga bagaimana objek bergerak hanya menggunakan prompt.

Selain itu, kita dapat meminta model ini menghasilkan audio yang berkesan nyata. Mulai dari backsound video, efek audio, bahkan menirukan suara manusia secara ekspresif.

Contohnya, suara mobil yang melaju 100 km/h akan berbeda dengan mobil yang hanya melaju 20 km/h. Begitupun dengan suara orang berteriak di dalam ruang kosong akan berbeda dengan yang berteriak di alam bebas.

Model Veo 3 yang diluncurkan Google dapat dikatakan sangat pintar dan canggih. Veo 3 mampu memahami teks secara komprehensif, kemudian menerjemahkannya hingga menjadi video yang berkesan nyata.

Kemampuan Google Veo 3 yang Mengesankan! Read More »

Touring: Kebebasan, Alam, dan Ekspresi Dari Roda Dua

Salah satu alasan utama mengapa orang memilih touring adalah rasa kebebasan yang ditawarkan. Mereka bebas menentukan destinasi, memilih tempat singgah, mengatur sendiri durasi perjalanan, hingga menentukan rute mana yang ingin dilewati. Tidak ada aturan kaku atau batasan; semuanya sesuai keinginan pribadi.

Semua alasan tersebut saling berkaitan erat. Touring memberikan sensasi membawa seseorang keluar dari dunia yang monoton ke dalam petualangan yang penuh warna. Melalui touring, mereka menemukan kebebasan, pengalaman baru, sekaligus momen untuk lebih mengenal diri sendiri.

Berikut ini beberapa alasan kuat mengapa banyak orang sangat menyukai kegiatan touring.

1. Kebebasan dan Petualangan saat Touring

Naik motor itu bukan cuma soal sampai tujuan—itu soal perjalanan. Touring pakai sepeda motor ngasih sensasi petualangan yang nggak bisa dibandingkan. Angin yang langsung menerpa wajah, aroma khas tiap daerah yang dilewati, sampai hawa dingin atau panasnya jalanan bikin pengalaman berkendara jadi lebih hidup dan real.

Dengan sepeda motor, kita bisa eksplorasi tempat-tempat seru tanpa takut jalur sempit atau medan sulit. Fleksibilitas motor jadi nilai plus yang bikin makin asyik. Gimana, guys? Udah mulai kebayang serunya motoran ke tempat-tempat baru?

2. Terkoneksi dengan Alam

Nggak bisa dipungkiri, touring itu erat banget sama alam. Banyak rider yang sengaja milih destinasi wisata alam seperti curug, pegunungan, atau pantai sebagai tempat healing. Mereka rela riding jauh berjam-jam cuma buat ngerasain vibes bebas dan tenang di tengah alam terbuka.

Setiap perjalanan jadi semacam “terapi alam”—yang bukan cuma seru, tapi juga bikin kita lebih peka dan sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Alam jadi teman seperjalanan yang ngasih energi baru di tengah hiruk pikuk hidup kota.

3. Media Ekspresi Diri

Buat sebagian orang, touring juga jadi ajang berekspresi. Banyak yang bikin vlog perjalanan mereka, ngerekam momen seru di jalan, sampai berbagi kisah lewat media sosial. Ini bukan cuma dokumentasi, tapi juga bentuk kreativitas dan identitas diri.

Touring bisa merepresentasikan banyak hal: jiwa petualang, rasa cinta pada alam, atau semangat jadi pribadi yang bebas dan independen. It’s more than just a ride—it’s a statement.

Itulah tiga alasan kuat kenapa banyak orang cinta banget sama touring, bahkan rela riding ratusan kilometer cuma buat satu destinasi.

Kalau kamu sendiri, apa sih yang bikin touring jadi momen paling ditunggu-tunggu?

Thanks udah baca sampai sini, semoga kamu makin semangat buat eksplor dunia lewat dua roda!

Touring: Kebebasan, Alam, dan Ekspresi Dari Roda Dua Read More »

Sentimen Publik terhadap AI: Optimis, Khawatir, atau Masih Ragu?

Berbagai reviewer teknologi membahas performa DeepSeek sebagai pesaing baru dalam ekosistem generative AI. Sebagian dari mereka memberi respons positif terhadap kehadiran AI ini. Namun, sambutan positif tersebut lebih ditujukan pada DeepSeek sebagai alat bantu baru, bukan pada keseluruhan ekosistem AI.

Mengapa demikian? Karena sejauh ini, generative AI belum menimbulkan ancaman serius terhadap manusia dalam waktu dekat.

Ancaman Sebenarnya Justru Datang dari Teknologi AI Lainnya

Berbeda dengan generative AI, teknologi seperti robotika, mesin otomatis (automation machine), dan RPA (robotic process automation) justru dianggap lebih berpotensi menggantikan tenaga manusia. Misalnya saja mesin scan otomatis di kasir swalayan, yang kini mulai banyak digunakan untuk menggantikan pekerjaan kasir manusia.

Bahkan pekerjaan yang lebih kompleks seperti marketing pun mulai tersentuh. Proses seperti pembuatan konten kini bisa dikerjakan dengan bantuan AI agent, membuat alur kerja lebih cepat dan efisien—tapi juga memunculkan kekhawatiran tentang peran manusia di masa depan.

Bagaimana Publik Merespons AI?

Dari hasil analisis sentimen publik pada komentar di tiga video YouTube TED yang membahas AI, didapatkan tiga kelompok respons utama:

42% Publik Optimis terhadap AI

Sebagian besar komentar menunjukkan sikap positif terhadap kehadiran AI. Mereka percaya bahwa AI akan membantu manusia bekerja lebih cepat, lebih efisien, dan lebih cerdas. Banyak yang merasa AI justru menjadi peluang untuk hidup lebih baik, bukan ancaman.

Contohnya, AI digunakan untuk prediksi, otomatisasi kerja, hingga membantu menghasilkan ide dan konten yang lebih optimal. Publik juga melihat AI sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas dan potensi penghasilan.

40% Publik Merasa Khawatir

Meski banyak sentimen publik yang optimis, tidak sedikit juga yang mengkhawatirkan kehadiran AI. Kekhawatiran terbesar terletak pada potensi kehilangan pekerjaan, karena semakin banyak tugas yang bisa diambil alih oleh mesin.

Contohnya, pekerjaan kasir yang mulai berkurang karena sudah bisa digantikan oleh sistem self-service. Bahkan sektor retail pun kini mulai menerapkan otomatisasi seperti di dunia manufaktur. Banyak yang bertanya-tanya, “Apakah pekerjaan saya juga akan digantikan AI?”

17% Publik Masih Bersikap Konservatif

Sebagian kecil lainnya memilih untuk menunggu dan melihat. Mereka tidak terlalu optimis, tapi juga belum merasa khawatir. Menurut mereka, masih terlalu dini untuk menyimpulkan bagaimana AI akan berkembang dalam lima tahun ke depan.

Beberapa dari mereka percaya bahwa tidak semua sektor bisa digantikan oleh AI. Contohnya, profesi seperti guru, yang tidak hanya mengandalkan logika tapi juga interaksi emosional, empati, dan intuisi—sesuatu yang belum bisa digantikan oleh mesin.

Kesimpulannya, tidak semua orang memandang AI sebagai keniscayaan yang sepenuhnya positif. Ada yang melihatnya sebagai peluang besar, ada pula yang menilai sebagai ancaman nyata. Dan sebagian lainnya memilih untuk tetap netral—menunggu bukti nyata dari dampak jangka panjangnya.

Sekarang, pertanyaannya:

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu percaya bahwa AI akan menggantikan manusia? Atau justru kamu yakin bahwa manusia dan AI akan berjalan berdampingan?

Yuk, share pandanganmu!

Terima kasih sudah membaca.

Data and Video Sources:

Sentimen Publik terhadap AI: Optimis, Khawatir, atau Masih Ragu? Read More »

3 Kanal YouTube yang Mengubah Mindset Gue!

Di era digital seperti sekarang, belajar tidak lagi harus lewat buku tebal atau kelas formal. Platform seperti YouTube jadi alternatif belajar yang gratis, fleksibel, dan pastinya seru karena dibalut dalam format audio-visual yang menarik. TIdak heran, banyak dari kita yang lebih memilih menonton YouTube dibanding baca artikel panjang atau e-book yang bikin ngantuk.

Salah satu format konten yang paling digemari Gen Z di YouTube adalah podcast—obrolan santai tapi mendalam yang biasanya dibawakan oleh dua orang atau lebih. Topiknya bisa apa aja, dari yang ringan sampai yang bisa mind-blowing dan mengubah cara kita ngeliat dunia.

Nah, ini dia 3 kanal YouTube yang bener-bener mengubah cara pikir gue. Kalau lo pengen upgrade mindset, wajib banget cek yang satu ini:

Kalau lo penasaran sama topik-topik seputar pendidikan, sosial, dan masa depan Indonesia, kanal Gita Wirjawan ini kayak harta karun. Melalui podcast-nya, “Endgame”, Pak Gita sering ngobrol bareng tokoh-tokoh keren dari berbagai bidang. Dari obrolan itu, kita jadi bisa lihat masalah dari sudut pandang yang lebih luas dan kritis.

Kanal ini cocok banget buat lo yang tertarik sama inovasi, bisnis, dan strategi menghadapi perubahan zaman. Dr. Indrawan membahas berbagai kasus nyata dalam dunia bisnis dan bagaimana kita bisa tetap relevan di tengah disrupsi.

Dosen, penulis, sekaligus praktisi bisnis ini punya gaya penyampaian yang sederhana tapi ngena. Di kanal YouTube-nya, Pak Rhenald bahas berbagai isu sosial, politik, dan bisnis, tapi dengan cara yang mudah dipahami. Banyak hal yang awalnya gue anggap remeh, ternyata punya dampak besar secara sosial dan ekonomi.

Itu dia 3 kanal YouTube yang sukses mengubah mindset gue. Semua kontennya bisa lo akses secara gratis dan bisa jadi teman belajar kapanpun dan dimanapun. Dengan konsumsi konten yang tepat, YouTube bisa jadi sarana edukasi yang powerful banget.

Jadi, daripada nonton konten yang gitu-gitu aja, coba sesekali klik video yang bisa menambah perspektif lo tentang dunia. Siapa tahu, dari situ lo nemuin jalan baru buat berkembang dan bertumbuh.

Yuk, ubah cara pikir—mulai dari satu video hari ini. 😉

3 Kanal YouTube yang Mengubah Mindset Gue! Read More »

Lebaran: Waktunya Reset, Recharge, dan Jadi Lebih Baik!

Ini adalah momen spesial yang penuh vibes kebahagiaan, dimana kita bersyukur karena bisa melewati Ramadhan dengan baik.

Momen Idul Fitri (Lebaran)

Idul Fitri jadi momen buat kita refresh hati dan bersyukur. Setelah sebulan menahan lapar, haus, dan segala godaan duniawi, kita balik lagi ke fitrah—jiwa yang lebih bersih. Takbir berkumandang di mana-mana, membuat kita sadar bahwa semua ini adalah berkah dari-Nya. Tradisi saling memaafkan juga jadi bagian penting dari Lebaran, biar kita bisa mulai lembaran baru tanpa beban.

Selain jadi hari kemenangan setelah berpuasa, lebaran juga identik dengan kumpul keluarga dan silaturahmi. Banyak yang rela macet-macetan untuk mudik, ketemu orang tua, saudara, dan teman lama. Ini juga jadi waktu pas buat berbagi kebahagiaan, entah lewat THR, makanan, atau sekadar obrolan hangat yang bikin kangen terobati.

Momentum Upgrade Diri

Tapi Lebaran bukan sekadar euforia sesaat. Ini juga jadi momen buat upgrade diri. Setelah sebulan belajar sabar, disiplin, dan peduli sama sekitar, kita bisa bawa kebiasaan baik ini ke kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang mulai mikirin gimana bisa jadi versi terbaik dari diri mereka setelah Ramadhan. Intinya, Lebaran itu bukan akhir, tapi titik awal buat jadi lebih baik.

Jadi, Lebaran bukan cuma soal opor ayam dan ketupat, tapi juga tentang refleksi diri. Apa aja yang udah kita dapat dari Ramadhan? Gimana kita bisa terus jadi pribadi yang lebih baik sampai ketemu Ramadhan berikutnya? Yuk, jadikan Idul Fitri ini sebagai start fresh buat hidup yang lebih bermakna.

Terimakasih telah membaca!

Lebaran: Waktunya Reset, Recharge, dan Jadi Lebih Baik! Read More »

Scroll to Top