3 Strategi Efektif untuk Menggali Kreativitas dan Potensi Gen Z
Media sosial ramai membicarakan permasalahan gen z di dunia kerja. Banyak perusahaan menilai gen z sebagai generasi manja yang sulit bekerja. Mereka dinilai kurang motivasi kerja dan culture fit dengan perusahaan. Sehingga hal ini menyebabkan gen z banyak diberhentikan.
Dilansir dari CNBC Indonesia, berdasarkan laporan terbaru Intelligent.com, terdapat 6 dari 10 perusahaan memberhentikan karyawan gen z. Para perusahaan mengeluh karena banyak gen z tidak profesional dan tidak siap memasuki dunia kerja yang dinamis.
Selain itu, menurut Ina Liem, konsultan karir dan founder Jurusanku, mengatakan bahwa banyak stigma negatif dari perusahaan terhadap gen z. Meskipun tidak semua gen z memiliki perilaku seperti yang dikeluhkan, hal ini nampaknya menjadi cerminan bagi seluruh gen z.
Lain halnya dengan pendapat Anggawira, Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) yang diwawancarai CNBC Indonesia. Ia menyatakan bahwa tidak semua perusahaan menilai gen z tidak profesional, namun justru disebabkan karena ketidaksesuaian ekspektasi perusahaan dengan gen z tersebut.
Kendati demikian, gen z memiliki segudang potensi yang seharusnya dapat dioptimalisasi oleh perusahaan. Mereka terlahir sebagai generasi yang adaptif dengan teknologi, kreatif, dan mampu berpikir inovatif. Dengan cara pandang tersebut, gen z mampu menciptakan ide-ide baru asalkan perusahaan mampu mengoptimalisasinya.
Baca Juga: Fundamental Skill Di Era AI
Inilah 3 cara untuk mengupas dan mengoptimalisasi potensi besar gen z agar perusahaan

Optimalisasi gen z di dunia kerja
1. Menyajikan teknologi yang relevan untuk gen z
Gen z merupakan generasi yang melek digital. Mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk kegiatan kreatif di media sosial, analitik data, maupun transformasi digital. Bagi perusahaan yang ingin memanfaatkan teknologi untuk pertumbuhan bisnisnya, ada baiknya mereka didukung menggunakan teknologi secara efisien.
Namun, jika teknologi yang digunakan sudah usang atau tidak user friendly, maka ini justru akan semakin mempersulit gen z. Mereka terbiasa menggunakan teknologi yang terintegrasi, terotomasi, serta tidak berulang.
Terlebih, AI saat ini sudah semakin advance dan memiliki banyak manfaat. Jika pekerjaan gen z tidak didukung dengan tools berteknologi modern yang relevan, maka perusahaan harus siap untuk tidak disukai oleh para karyawan gen z.
2. Memberikan kesempatan kolaborasi dan komunikasi
Gen z memiliki karakteristik yang mementingkan kolaborasi dan komunikasi terbuka. Mereka lebih menyukai pekerjaan dalam kelompok dengan komunikasi yang terbuka terhadap ide-ide kreatif.
Dilansir dari artikel workable.com, iklim kerja yang mengusung kolaborasi terbukti mampu mendorong potensi diri gen z lebih besar. Terutama jika didukung dengan agenda brainstorming untuk mengkritisi suatu issue, gen z akan cenderung lebih kreatif.
Kendati demikian, kolaborasi ini harus dirancang agar gen z mampu aktif dalam berdiskusi. Misalnya, memberikan kesempatan lebih banyak bagi mereka untuk present suatu materi. Hal ini akan mendorong gen z untuk bisa berkomunikasi dengan rekan kerja lebih efektif dan berani.
3. Fleksibilitas dalam berpikir kreatif gen z di dunia kerja
Fleksibilitas tidak melulu soal waktu, namun juga fleksibilitas cara berpikir. Gen z merupakan generasi yang sangat terekspos media sosial dan platform digital lainnya. Kemudahan akses terhadap berbagai macam platform membuat gen z leluasa untuk berekspresi melalui karya-karya yang diunggahnya.
Menurut laporan dari US Today, gen z setiap hari melakukan sesuatu yang kreatif sebesar 63% dari seluruh kegiatannya. Hal ini menjadikan mereka generasi yang lebih kreatif sebesar 6% dari generasi milenial yang hanya melakukan kegiatan kreatif sebesar 57%.
Hal ini juga selaras dengan hasil temuan survey marketingcharts.com yang menyatakan bahwa 51% gen z percaya bahwa mereka lebih kreatif dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka berpartisipasi secara offline maupun online untuk kegiatan kreatif seperti melukis, menulis, membuat grafis digital, edit foto, bahkan membuat meme.
Maka dari itu, iklim fleksibel dalam berpikir sangat diperlukan untuk mendorong potensi gen z dalam bekerja lebih baik. Jika fleksibilitas berpikir dibatasi oleh aturan-aturan rumit, dapat dipastikan mereka akan mengubur ide-ide yang mereka miliki
Baca Juga: The First Principle Thinking: Cara Berpikir Elon Musk
Itulah 3 cara untuk memaksimalkan potensi gen z di dunia kerja. By the way, saya pun seorang gen z dan saya cukup merasakan apa yang membuat potensi diri saya lebih baik.
Kalau kamu seorang gen z, apa saja cara-cara efektif agar kita bisa terus berkembang dan bertumbuh di dunia kreatif ini?
Terimakasih telah membaca
3 Strategi Efektif untuk Menggali Kreativitas dan Potensi Gen Z Read More ยป