Coffee Shop Diminati Anak Muda: Mengapa Coffee Shop Begitu Dekat dengan Gen Z?
EKSPLORASI
5/10/20261 min read


Pasca pandemi COVID-19, tren coffee shop di Indonesia tumbuh begitu pesat dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, utamanya Gen Z. Fenomena ini didukung dengan menjamurnya kedai kopi di berbagai kota dan daerah di Indonesia.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi kopi secara nasional sekitar 1,25 kilogram per kapita per tahun menjadi salah satu pemicu kian menjamurnya kedai kopi. Namun, dibalik konsumsi kopi yang meningkat, ada budaya minum kopi yang bergeser.
Sebelumnya, orang pergi ke kedai kopi hanya sekadar memesan, lalu meminumnya. Namun, tidak untuk saat ini. Kedai kopi menjadi alternatif tempat bekerja dan belajar secara daring, khususnya untuk kalangan Gen Z.


Coffee shop sebagai identitas Gen Z
Bagi Gen Z, coffee shop bukan lagi tempat hanya untuk minum kopi, melainkan sudah menjadi identitas diri. Interior estetik, suasana hangat, hingga desain minimalis menjadi daya tarik utama untuk konten di media sosial. Coffee shop juga mulai menjadi third place, yaitu ruang sosial untuk berkumpul, berdiskusi, hingga mencari inspirasi
Minat Gen Z terhadap kopi juga dipengaruhi faktor psikologis. Kafein dianggap sebagai peningkat fokus ketika bekerja maupun belajar. Selain itu, kopi juga dianggap sebagai bentuk self-reward setelah beraktivitas seharian.
Survei Jakpat pada tahun 2023 menunjukan sekitar 66% Gen Z mengkonsumsi kopi secara situasional saja, sedangkan selebihnya menjadikan ngopi sebagai bagian dari aktivitas bersosialisasi.
Fenomena ini pada akhirnya mengubah fungsi coffee shop menjadi media komunikasi. Coffee shop mampu menghadirkan ruang tatap muka yang lebih autentik untuk bertemu teman, berdiskusi, atau lainnya.
Budaya nongkrong sambil ngopi pun menjadi simbol gaya hidup modern yang melekat pada identitas Gen Z. Bagi Gen Z, kopi bukan lagi sekadar minum, melainkan simbol gaya hidup, media komunikasi, bahkan identitas diri mereka.