Ada mata yang tak pernah berkedip
Rakus menelan tiap detik tanpa sisa
Di sela jemari yang saling mengunci
Waktu diam-diam mencuri rahasia
Bintik air di kaca, sisa hujan semalam
Mengaburkan pandangan,
Namun diam-diam
Memperindah bayangan yang ingin kulupakan
Sebuah dunia tampak agung
Di balik kaca yang penuh sisa hujan
Lalu, aku bertanya:
“Apakah ini dunia yang nyata?
Atau hanya cara mataku berdamai dengan yang telah hilang?”
Bintik air di kaca, sisa hujan semalam
Mengaburkan pandangan
Hingga aku lupa
Apakah aku sedang memotret dunia yang agung,
Atau hanya mengabadikan diriku
Yang terlalu lama bersikap acuh
Dunia di balik lensa terasa lebih tenang, bahkan terlalu tenang
Tanpa bising, tanpa beban yang benar-benar terasa
Aku bersembunyi di balik mesin,
Seolah makna bisa kutangkap
Di antara garis waktu yang perlahan memudar
Jemariku gemetar
Mencari satu titik paling jujur
Untuk meninggalkan sesuatu yang tak lekang
Namun mata kaca ini hanya mampu menangkap yang di luar
Sementara yang paling berarti
Telah lama luput
Dan diam-diam berubah
Menjadi penyesalan yang abadi


